KOTA BAKTI_INN.COM
Keterbatasan modal bukan menjadi penghalang bagi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kota Bakti untuk mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
Melalui unit usaha peternakan unggas, program yang semula dimulai dalam skala kecil kini berkembang menjadi kegiatan produktif yang tidak hanya memberikan keterampilan bagi warga binaan, tetapi juga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Program tersebut diawali dengan hanya 30 ekor ayam Elba dan 10 ekor ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB). Dengan perawatan yang konsisten, pengelolaan berkelanjutan, serta pemanfaatan mesin penetas telur atau inkubator, populasi unggas terus bertambah.
Proses penetasan dan pemeliharaan bahkan melibatkan langsung warga binaan. Mereka mendapatkan pengalaman praktis mulai dari perawatan unggas, pengelolaan kandang, proses penetasan hingga pembesaran ayam.
Kini, populasi di kawasan peternakan Lapas Kelas IIB Kota Bakti telah berkembang menjadi sekitar 200 ekor ayam Elba dan 50 ekor ayam KUB.
Perkembangan tersebut kemudian mendorong Lapas Kota Bakti untuk memperluas manfaat program dengan memasarkan hasil pembibitan kepada masyarakat sekitar. Bibit yang tersedia mulai dari anak ayam usia sehari atau Day Old Chick (DOC) hingga ayam berusia sekitar dua bulan.
Program ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang diarahkan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dikembangkan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.
Di sisi lain, kegiatan tersebut turut membuka akses bagi masyarakat Kota Bakti terhadap bibit unggas yang dapat dikembangkan sebagai usaha peternakan skala rumah tangga maupun usaha produktif lainnya.
Dengan demikian, pengembangan peternakan unggas di Lapas Kelas IIB Kota Bakti tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan warga binaan, tetapi juga diarahkan agar kegiatan pembinaan mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
