Berita  

Dr. Iswadi Soroti Pemanfaatan AI sebagai Alat Bantu Pembelajaran dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat Kolaborasi Empat Perguruan Tinggi dan Kelurahan Sukabumi Utara

JAKARTA: Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan dan kehidupan masyarakat. Teknologi ini membuka peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses informasi, mengembangkan kreativitas, serta mendorong efisiensi berbagai aktivitas. Namun, pemanfaatannya juga membutuhkan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran etika agar teknologi digunakan secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

Isu tersebut menjadi salah satu perhatian dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema Kelurahan Melek AI dan Sehat Digital: Bijak Bermedia, Aman Berkeluarga yang melibatkan empat perguruan tinggi, yakni Universitas Esa Unggul, Universitas Bung Karno, Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kusuma Negara, bersama Pemerintah Kelurahan Sukabumi Utara.

Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 2 November 2026, pukul 09.00 WIB, bertempat di Kantor Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan AI, keamanan digital, literasi media, serta pentingnya membangun kebiasaan bermedia yang sehat dalam lingkungan keluarga.

Salah satu akademisi yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Dr. Iswadi, M.Pd., dosen Magister Pendidikan Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Esa Unggul. Perspektif pendidikan yang dibawanya relevan dengan pembahasan mengenai pemanfaatan AI sebagai alat bantu pembelajaran, khususnya dalam mendukung proses belajar anak, meningkatkan kreativitas peserta didik, serta memperkuat peran guru dan orang tua di tengah transformasi digital.

Dr. Iswadi dan Pemanfaatan AI sebagai Alat Bantu Pembelajaran

Dalam dunia pendidikan, AI memiliki potensi besar untuk membantu guru mengembangkan materi ajar, menyusun variasi aktivitas pembelajaran, mencari referensi, merancang soal evaluasi, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan interaktif.

Bagi peserta didik, teknologi AI dapat menjadi sarana untuk mengeksplorasi pengetahuan, memahami konsep yang sulit, mengembangkan gagasan, dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Dengan pemanfaatan yang tepat, AI dapat mendukung pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan dan karakteristik peserta didik.

AI juga dapat dimanfaatkan orang tua untuk memperoleh inspirasi kegiatan belajar di rumah, mencari bahan bacaan yang sesuai dengan usia anak, serta membantu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan.

Meskipun demikian, teknologi harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peran guru, pendidik, maupun interaksi manusia yang menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Guru tetap memiliki tanggung jawab dalam membimbing, memberikan keteladanan, membangun karakter, dan memastikan proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dalam pendidikan dasar, prinsip tersebut sangat penting karena anak masih berada dalam tahap perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan moral. Oleh karena itu, penggunaan AI harus diarahkan agar peserta didik tidak sekadar memperoleh jawaban secara instan, tetapi juga terbiasa mengajukan pertanyaan, menelaah informasi, mengembangkan gagasan, dan menyusun kesimpulan secara mandiri.

Literasi AI juga mencakup kemampuan mengenali keterbatasan teknologi. Jawaban yang dihasilkan sistem AI tidak selalu benar, lengkap, atau sesuai dengan konteks. Karena itu, informasi yang diperoleh harus diperiksa kembali melalui sumber yang dapat dipercaya.

Guru dan orang tua memiliki peran strategis dalam membimbing anak membedakan informasi yang benar dari informasi yang keliru atau menyesatkan. Dengan demikian, pemanfaatan AI tidak hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemandirian, dan tanggung jawab.

Kolaborasi Empat Perguruan Tinggi Perkuat Pengabdian kepada Masyarakat

Program ini memperlihatkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah kelurahan dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Pengabdian kepada Masyarakat merupakan bagian dari pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi yang perlu diarahkan pada persoalan aktual dan kebutuhan warga.

Kegiatan ini melibatkan akademisi lintas disiplin ilmu dari empat perguruan tinggi yang berkontribusi dalam memperkuat pelaksanaan program melalui perspektif pendidikan, komunikasi, teknologi informasi, desain, dan ilmu sosial.

Dari Universitas Esa Unggul, akademisi yang terlibat meliputi Dr. Ayu Larasati, S.Sos., M.I.Kom., dosen Fakultas Ilmu Komunikasi; Anton Bahtiar Rifa’i, S.Pd., M.I.Kom., dosen Fakultas Ilmu Komunikasi; Dr. Iswadi, M.Pd., dosen Magister Pendidikan Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan; Muhamad Hadi Arfian, S.Kom., M.M., dosen Fakultas Ilmu Komputer, Program Studi Teknik Informatika; Oskar Judianto, S.Sn., M.M., M.Ds., dosen Fakultas Desain dan Industri Kreatif; Jesita Sani, S.Ds., M.Ds., dosen Fakultas Desain dan Industri Kreatif; serta Dr. Bahar, S.Pd., M.Hum., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Dari Universitas Bung Karno akademisi yang berkontribusi adalah Salomon A.M. Babys, S.IP., M.Si., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; Galuh Sukmaranti, S.I.Kom., M.Si., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; serta Faisyal, S.IP., M.Si., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, bidang Ilmu Komunikasi.

Dari Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, kegiatan ini melibatkan Fauziah, S.Sos., M.I.Kom., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ekonomi, Bisnis dan Ilmu Sosial.

Sementara itu, dari STKIP Kusuma Negara, akademisi yang terlibat adalah Dr. Vera Yulia Harmayanthi, M.Pd., dan Nurhasanah, M.A., yang keduanya merupakan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.

Keterlibatan seluruh akademisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan literasi AI membutuhkan pendekatan multidisipliner. Persoalan kecerdasan buatan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi, tetapi juga menyangkut aspek pendidikan, komunikasi, keamanan informasi, kreativitas, etika, dan dampak sosial.

Keluarga dan Etika Digital Menjadi Perhatian

Selain pemanfaatan AI dalam pembelajaran, program ini menempatkan keluarga sebagai lingkungan utama dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Penggunaan gawai dan media sosial secara berlebihan berpotensi mengurangi interaksi langsung, mengganggu keseimbangan aktivitas, serta meningkatkan paparan anak terhadap konten yang tidak sesuai dengan usianya.

Orang tua perlu mendampingi anak melalui komunikasi terbuka, pengaturan waktu penggunaan perangkat, pemilihan konten, dan perlindungan data pribadi. Anak juga perlu dibiasakan mengenali berita bohong atau hoaks, memahami risiko perundungan siber, menjaga informasi pribadi, serta menghormati orang lain ketika berinteraksi di ruang digital.

Pendampingan sebaiknya dilakukan secara edukatif dan proporsional. Anak perlu memahami alasan di balik aturan penggunaan teknologi sehingga mampu mengembangkan kesadaran untuk menjaga dirinya sendiri, bukan sekadar mematuhi larangan orang tua.

Kesehatan digital bukan berarti menolak perkembangan teknologi. Sebaliknya, keluarga perlu memanfaatkan teknologi untuk belajar, berkomunikasi, dan mengembangkan potensi, sembari mempertahankan keseimbangan antara aktivitas digital, kegiatan fisik, dan hubungan emosional antaranggota keluarga.

Mendorong Masyarakat Cerdas Menghadapi Era AI

Melalui program Kelurahan Melek AI dan Sehat Digital, masyarakat diharapkan semakin mampu memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif, pengembangan usaha, peningkatan pengetahuan, dan kebutuhan sehari-hari.

Kesadaran untuk memverifikasi informasi, menghormati privasi, menjaga keamanan data, serta menerapkan etika komunikasi menjadi bagian penting dari kecakapan digital yang perlu terus diperkuat.

Kelurahan memiliki posisi strategis sebagai ruang interaksi warga sekaligus penggerak edukasi di tingkat lokal. Kolaborasi dengan perguruan tinggi membuka kesempatan untuk memperluas akses pengetahuan, memberikan pendampingan, dan mengembangkan program literasi digital sesuai kebutuhan masyarakat.

Kegiatan ini dipandu oleh Hanifah Dita Utami sebagai pembawa acara atau Master of Ceremony (MC). Dr. Ayu Larasati, S.Sos., M.I.Kom., dari Universitas Esa Unggul, serta Ali Syahidin, S.Ag., Lurah Sukabumi Utara, dijadwalkan memberikan sambutan.

Sinergi seluruh pihak diharapkan memperkuat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat sekaligus membuka peluang keberlanjutan program pengabdian yang memberikan manfaat lebih luas.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kemampuan masyarakat mengakses dan mengoperasikan teknologi, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam menggunakannya. Melalui penguatan literasi AI, pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran, serta pembentukan kebiasaan digital yang sehat, kolaborasi ini diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan kehidupan keluarga.

Program ini sekaligus menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang relevan, aplikatif, dan berdampak bagi masyarakat. AI hendaknya tidak menggantikan peran manusia, melainkan menjadi sarana pemberdayaan, memperluas kesempatan belajar, meningkatkan kreativitas, serta membangun masyarakat yang kritis, cerdas, aman, dan bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan era digital.##