Suasana di Areal Lahan Terlantar PTPN-2 Dikelola Kelompok Tani di Jalan Mahoni Desa Bandar Klippa Dadak Cekam, 6 Masyarakat Sipil Diduga Dibawa Paksa oleh Personel dari Yon Armed 2/KS Deli Tua bersama Sejumlah Petugas Security

Teks Foto : Suasana di Areal Lahan terlantar PT. Perkebunan Nusantara 2 (PTPN-2) yang selama ini dikelola kelompok tani di Jalan Mahoni, Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang mendadak mencekam, pada Jumat (10/07/2026). Enam masyarakat sipil yang tengah beraktivitas di lokasi tersebut yang diduga dibawa paksa oleh Personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) PT. Perkebunan Nusantara 2 (PTPN-2) yang disebut melibatkan oknum dari Yon Armed 2/KS Deli Tua bersama sejumlah Petugas Security dari PT. PT. Perkebunan Nusantara 2 (PTPN-2)/(Doks Foto/InfoNewsNusantara.com)

Deli Serdang | InfoNewsNusantara.com

Suasana di Areal Lahan terlantar PT. Perkebunan Nusantara 2 (PTPN-2) yang selama ini dikelola kelompok tani di Jalan Mahoni, Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang mendadak mencekam, pada Jumat (10/07/2026).

Enam masyarakat sipil yang tengah beraktivitas di lokasi tersebut yang diduga dibawa paksa oleh Personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) PT. Perkebunan Nusantara 2 (PTPN-2) yang disebut melibatkan oknum dari Yon Armed 2/KS Deli Tua bersama sejumlah Petugas Security dari PT. PT. Perkebunan Nusantara 2 (PTPN-2).

Menurut keterangan kelompok tani, keenam masyarakat sipil yang disebut-sebut dibawa dari lokasi masing-masing berinisial S, RZ, B, RJ, A dan G.

Dua orang diantaranya sedang bekerja di lokasi pencetakan sawah, sementara empat lainnya merupakan supir yang akan mengangkut tanah untuk kegiatan pembukaan lahan pertanian.

Hingga berita ini ditulis, pihak kelompok tani mengaku belum mengetahui keberadaan keenam masyarakat sipil tersebut.

Salah seorang petani yang berada di lokasi tersebut, berinisial Jkrik, mengaku proses pengamanan berlangsung secara cepat.

Ia menyebut rombongan Bantuan Kendali Operasi (BKO) bersama Petugas Security memasuki area tanpa memperlihatkan surat tugas maupun dokumen penindakan kepada masyarakat sipil yang berada di lokasi tersebut.

Menurutnya, tindakan tersebut menimbulkan kepanikan dikalangan petani yang selama ini mengelola lahan tersebut. Tak hanya itu, kelompok tani juga mengaku terjadi dugaan intimidasi terhadap seorang masyarakat sipil yang sedang mencari rumput untuk pakan ternak disekitar lokasi tersebut.

Masyarakat sipil tersebut, kata Jkrik, dituduh merekam peristiwa pengamanan dan mengaku melihat seseorang mengeluarkan benda yang diduga menyerupai senjata api.

Dugaan intimidasi itu membuat masyarakat sekitar memilih menjauh karena khawatir situasi semakin memanas. Kelompok tani membantah tudingan bahwa aktivitas di lokasi merupakan praktik galian C ilegal.

Mereka menegaskan kegiatan yang dilakukan merupakan pencetakan lahan sawah sebagai upaya mendukung program Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto Ketahanan Pangan dan Swasembada Pangan Nasional.

Mereka menilai apabila benar ada masyarakat sipil yang dibawa tanpa prosedur hukum yang jelas, maka peristiwa tersebut harus diusut secara transparan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Peristiwa ini kini menjadi perhatian masyarakat. Kelompok tani mendesak Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapolda Sumut), Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto, S.I.K., M.H., Pangdam I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Hendy Antariksa, serta Instansi terkait lainnya untuk segera menelusuri keberadaan enam masyarakat sipil tersebut dan mengusut dugaan tindakan intimidasi maupun dugaan perampasan kemerdekaan terhadap masyarakat sipil tersebut.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Kepala Bagian Aset PT. Perkebunan Nusantara 2 (PTPN-2), Topan dan Danyon Armed 2/KS Deli Tua, Letkol Kiky Hardian saat dikonfirmasi wartawan melalui lewat pesan WhatsAppnya belum memberikan tanggapan sehingga klarifikasi dari pihak terkait masih ditunggu.(inn0101/1kbr-40)