ACEH TAMIANG | Infonewsnusantara.com — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat masih dihadapkan dengan persoalan tingginya harga kebutuhan pokok, khususnya beras. Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Ketua Tameng Perjuangan Rakyat Anti Korupsi (TAMPERAK) sekaligus Sekretaris Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (PEPABRI), Purn TNI Zulsyafri.
Zulsyafri menilai, sebagai negara agraris yang selama ini digadang-gadang mampu mencapai swasembada pangan, kondisi harga beras yang masih tinggi menjadi perhatian serius. Menurutnya, di tengah momentum perayaan kemerdekaan, masyarakat seharusnya mendapatkan kepastian terhadap ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan.
“Negara kita dikenal sebagai negara agraris dan pemerintah terus mendorong program swasembada pangan. Namun kenyataannya, menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia, masyarakat masih mengeluhkan harga beras yang mahal,” ujar Zulsyafri.
Ia menyebutkan, harga beras di pasaran saat ini mencapai sekitar Rp260 ribu per karung ukuran 15 kilogram. Kondisi tersebut dinilai cukup membebani masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah yang harus mengatur ulang pengeluaran rumah tangga.
Salah seorang konsumen, Erna (50), mengaku kenaikan harga beras membuat dirinya harus lebih berhati-hati dalam mengatur kebutuhan sehari-hari.
“Kalau saya beli beras biasanya hanya lima kilogram. Tapi kalau uang sudah banyak terpakai untuk membeli beras, kebutuhan lain jadi berkurang atau bahkan tidak cukup,” kata Erna saat berbincang dengan TAMPERAK.
Erna mengaku sempat berkeliling dari satu toko ke toko lainnya di kawasan Pasar Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, untuk mencari harga beras yang lebih murah. Namun, ia hanya menemukan harga yang masih berada di kisaran Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.
“Sudah dicari ke beberapa tempat, tetapi harga masih tinggi. Kami berharap ada perhatian pemerintah agar harga beras bisa kembali terjangkau,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Yuli (30), pemilik usaha warung makan tradisional. Ia mengaku kenaikan harga beras berdampak langsung terhadap usahanya.
“Karena harga beras naik, saya terpaksa mengurangi porsi nasi yang diberikan kepada pelanggan. Biasanya satu kepal tangan penuh, sekarang sedikit dikurangi, sementara harga jual masih tetap sama,” ungkap Yuli.
Menurutnya, jika harga beras terus mengalami kenaikan, pelaku usaha kecil seperti dirinya akan semakin sulit mempertahankan usaha.
TAMPERAK, PEPABRI, serta masyarakat Aceh Tamiang berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan harga beras. Menurut mereka, masyarakat membutuhkan perhatian dan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas pangan, terutama bagi warga yang terdampak kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus menjadi pengingat bahwa kesejahteraan rakyat merupakan bagian penting dari cita-cita kemerdekaan. Pemerintah harus hadir memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi dengan harga yang wajar,” tutup Zulsyafri. (##)
