NCPI Bali Bersama Universitas Udayana Perkuat Sinergi Akademik untuk Reformasi Pariwisata Indonesia

Denpasar|INN.com

Tim Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali bersama Universitas Udayana menggelar rapat perdana sebagai langkah awal memperkuat kontribusi akademik dalam penyusunan kebijakan strategis pembangunan pariwisata nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Rapat yang dipimpin Prof. Dr. I Nyoman Sunarta, M.Si. menjadi momentum menyinergikan akademisi, praktisi, pelaku usaha, dan organisasi profesi dalam merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis riset ilmiah (evidence-based policy). Hasil pembahasan tersebut akan menjadi bahan strategis dalam agenda audiensi dengan Presiden Republik Indonesia.

Prof. Sunarta mengatakan bahwa pembangunan pariwisata harus dilakukan melalui pendekatan yang komprehensif, berkelanjutan, adaptif terhadap perubahan global, serta mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan budaya.

Prof. Sunarta juga mengingatkan bahwa keberhasilan pariwisata Bali bertumpu pada harmoni antara alam, budaya, masyarakat, dan tata ruang. Karena itu, pembangunan harus tetap memperhatikan ruang terbuka hijau dan aspek keberlanjutan lingkungan.

Sementara, Dr. I Ketut Antara menyampaikan perkembangan proses koordinasi dengan Arief Martha Rahadyan di Jakarta terkait surat permohonan audiensi kepada Presiden Republik Indonesia. Ia menjelaskan bahwa surat tersebut telah diterima oleh Sekretariat Presiden dan saat ini sedang memasuki tahapan administrasi. Sejalan dengan itu, Tim NCPI Bali diminta mempersiapkan berbagai kajian strategis sebagai bahan pembahasan apabila jadwal audiensi telah ditetapkan.

Dalam diskusi, Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putra, S.H., M.Hum. menekankan pentingnya reformasi tata kelola pariwisata melalui pemetaan destinasi, penataan legalitas usaha wisata, penyederhanaan perizinan, optimalisasi penerimaan daerah, serta regulasi yang mendorong investasi berkelanjutan.

Ni Wayan Abdi Rahayu, S.Pd. menambahkan bahwa penguatan daya saing pariwisata harus didukung strategi branding yang kuat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, serta kolaborasi lintas sektor.

Rapat menyepakati sejumlah prioritas rekomendasi kepada Presiden, meliputi penguatan SDM, reformasi regulasi investasi, digitalisasi sektor pariwisata, pemerataan pembangunan destinasi, pengembangan pariwisata berkelanjutan, serta penguatan sinergi pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media.

Arief Martha Rahadyan, B.Sc., M.Sc., Tokoh Muda Nasional menegaskan bahwa peningkatan daya saing pariwisata Indonesia harus dibarengi pembenahan yang modern dan terukur. Menurutnya, persoalan mendasar seperti kebersihan, kemacetan, fasilitas umum, keamanan, dan kenyamanan wisatawan harus menjadi prioritas utama.

Arief mendorong penerapan konsep Smart Tourism melalui pemanfaatan teknologi digital, seperti sistem pemantauan kepadatan wisatawan secara real-time, aplikasi informasi destinasi terpadu, pembayaran digital, serta pengelolaan kebersihan yang lebih responsif. Ia juga menekankan pentingnya pembangunan transportasi yang terintegrasi, penyediaan fasilitas publik yang layak, akses bagi penyandang disabilitas, jaringan internet yang memadai, serta pusat informasi wisata yang mudah diakses.

Pariwisata Indonesia membutuhkan tata kelola yang modern, inovatif, dan berbasis teknologi. Dengan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, sektor pariwisata akan semakin berdaya saing dan mampu menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Arief.

Melalui sinergi antara kajian akademik, inovasi, digitalisasi, dan kolaborasi lintas sektor, Tim NCPI Bali optimistis rekomendasi yang disusun dapat menjadi masukan strategis bagi pemerintah dalam membangun pariwisata Indonesia yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.