Peringati Hari Buruh 2026, Ribuan Massa yang Tergabung dalam Organisasi Buruh FPBI bersama AKBAR Sumut Gelar Aksi Unjuk Rasa di Jalan Balai Kota Medan, “Lawan Kapitalisme, Imperialisme, dan Militerisme, Kesejahteraan Buruh, dan Pendidikan Gratis adalah Kedaulatan Rakyat”

MEDAN | InfoNewsNusantara.com

Dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau 1 Mei 2026 (May Day 2026), ribuan massa yang tergabung dalam Organisasi Buruh Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Aliansi Kemarahan Buruh dan Rakyat Sumatera Utara (AKBAR Sumut), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Barisan Demokrasi (BASDEM), KONSORSIUM PEMBARUAN AGRARIA (KPA SUMUT), Serikat Petani Serdang Bedagai (SPSB), dan KSPPM Parapat menggelar aksi unjuk rasa di depan Lapangan Merdeka, Jalan Besar Simpang Empat Balai Kota, pada Kamis (01/05/2026) dini hari.

Aksi unjuk rasa dimulai pukul 10.00 WIB dari Masjid Raya Al-Mashun sebagai titik kumpul, kemudian bergerak menuju utama, yakni di Pertigaan Grand City Hall dan depan Lapangan Merdeka, Jalan Besar Simpang Empat Balai Kota, Kota Medan.

Massa aksi unjuk rasa yang hadir terhimpun dari sejumlah lembaga-lembaga Kemasyarakatan, Organisasi Serikat Buruh dan Aliansi Mahasiswa se-Sumatera Utara, seperti Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Aliansi Kemarahan Buruh dan Rakyat Sumatera Utara (AKBAR Sumut), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Barisan Demokrasi (BASDEM), KONSORSIUM PEMBARUAN AGRARIA (KPA SUMUT), Serikat Petani Serdang Bedagai (SPSB), dan KSPPM Parapat.

Dalam aksi unjuk rasa tersebut, massa mengusung tema, “Lawan Kapitalisme, Imperialisme, dan Militerisme! Kesejahteraan Buruh dan Pendidikan Gratis adalah Kedaulatan Rakyat.” Seruan tersebut digaungkan dalam orasinya salah satu massa aksi unjuk rasa, Agus Sinaga dari Aliansi Kemarahan Buruh dan Rakyat Sumatera Utara (AKBAR Sumut). Ia menilai sistem kapitalisme menjadi salah satu penyebab utama ketimpangan yang dialami buruh dan masyarakat.

“Lawan Kapitalisme! Hancurkan Kapitalisme!
Imperialisme! dan Militerisme! Kesejahteraan Buruh dan Pendidikan Gratis adalah Kedaulatan Rakyat.” Karena sistem ini membuat hidup kita semakin miskin. Bukan hanya buruh, tetapi juga kaum tani yang kehilangan ruang hidupnya,” tegas Agus Sinaga, Jumat (01/05/2026).

Dalam aksi unjuk rasa ini, massa membawa 25 tuntutan, di antaranya dari tuntutan untuk mewujudkan upah dan kerja yang layak bagi buruh, menghadirkan pendidikan gratis, demokratis, ilmiah, dan berpihak pada rakyat, menghentikan diskriminasi kerja terhadap kelompok rentan, serta mendorong pembentukan tim penetapan upah yang transparan, independen, dan melibatkan seluruh elemen buruh tanpa terkecuali.

Salah satu Ketua Serikat Pekerja Indonesia, Serikat Pekerja Multi Sektor (SPIN SPMS), Mardina, turut menyampaikan kondisi sebagian buruh yang masih diperbudak di Indonesia.

“Saya melihat kondisi buruh yang ada di Indonesia saat ini, masih banyak terjadi outsourcing, buruh dijadikan sebagai budak. Selain itu, banyak terjadi ketimpangan yang dialami oleh buruh, mulai dari upah yang diberikan sangat rendah, Pemberhatian Hak Kerja (PHK) yang dilakukan secara sepihak kepada buruh, bahkan meskipun buruh tersebut mengabdi sampai tua,” ungkap Mardina, Jumat (01/05/2026).

Sementara itu, salah satu massa aksi unjuk rasa dari Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Kusno, juga turut menyoroti kondisi buruh saat ini dan menginginkan adanya perubahan dan kelayakan bagi buruh.

“Situasi buruh hari ini sangat memprihatinkan. Banyak masalah yang dialami kaum buruh. Untuk itu, kami dari Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) menuntut adanya kelayakan, baik dari segi upah, jam kerja, maupun kelayakan hidup,” ucap Kusno.

Salah satu Mahasiswa, M. Raihan Zahrawi dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Siswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) stambuk 2022, turut hadir dalam aksi unjuk rasa tersebut.

Ia menilai kehadiran Mahasiswa dalam aksi unjuk rasa buruh merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

“Mahasiswa harus belajar dari esensinya, karena dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi ada pengabdian kepada masyarakat. Untuk itu, Mahasiswa turut memperkuat masyarakat, terutama kaum buruh sebagai suara Rakyat. Saat ini masih banyak persoalan seperti upah dan jam kerja yang tidak menyejahterakan, bahkan ada buruh yang tidak dibayar saat lembur, untuk itu mari jangan terlena atas semua tawaran dari kapitalisme,” katanya.

Lewat aksi unjuk rasa ini, Raihan berharap Pemerintah dapat memberikan advokasi hukum yang jelas serta menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada buruh. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat perjuangan, khususnya untuk seluruh masyarakat luas.(***)