infonewsnusantara, Jakarta : Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia secara signifikan. Kehadiran AI kini tidak hanya dimanfaatkan di sektor teknologi, tetapi juga telah merambah dunia pendidikan, bisnis, pemerintahan, kesehatan, industri kreatif, hingga pelayanan publik. Di tengah pesatnya perkembangan tersebut, masyarakat dituntut untuk mampu memanfaatkan AI secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab agar teknologi ini benar-benar memberikan manfaat yang optimal.
Pakar pendidikan dan pengamat sosial, Dr. Iswadi, menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh sekadar mengikuti tren penggunaan AI tanpa memahami cara kerja, manfaat, serta risiko yang menyertainya. Menurutnya, AI merupakan inovasi luar biasa yang dapat meningkatkan produktivitas dan mempercepat berbagai proses pekerjaan, namun tetap harus digunakan dengan prinsip kehati hatian dan etika.
AI adalah teknologi yang sangat bermanfaat apabila dimanfaatkan secara tepat. Namun, manusia tidak boleh menjadi pengguna yang pasif dengan menerima seluruh informasi yang dihasilkan AI tanpa melakukan analisis. Manusia harus tetap menjadi pengendali utama dalam setiap pengambilan keputusan, ujar Dr. Iswadi.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan AI dalam mengolah data secara cepat telah membantu berbagai kalangan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien. Di dunia profesional, AI mampu mendukung penyusunan laporan, analisis data, pembuatan presentasi, penerjemahan bahasa, hingga menghasilkan berbagai ide kreatif. Sementara dalam kehidupan sehari hari, AI juga membantu masyarakat memperoleh informasi, meningkatkan produktivitas, serta mempermudah aktivitas digital.
Meskipun demikian, Dr. Iswadi mengingatkan bahwa AI bukanlah sumber kebenaran yang mutlak. Sistem AI bekerja berdasarkan data dan pola yang dipelajarinya sehingga tetap memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, setiap informasi yang dihasilkan perlu diverifikasi melalui sumber sumber yang kredibel sebelum dijadikan dasar dalam mengambil keputusan.
Jangan langsung percaya terhadap seluruh jawaban AI. Biasakan melakukan pengecekan ulang, terutama untuk informasi yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, hukum, ekonomi, maupun kebijakan publik. Literasi digital menjadi kemampuan yang wajib dimiliki masyarakat agar mampu menyaring informasi secara kritis, jelasnya.
Menurut Dr. Iswadi, salah satu tantangan terbesar dalam perkembangan AI adalah meningkatnya potensi penyebaran informasi yang tidak akurat, manipulasi konten digital, penyalahgunaan teknologi, hingga munculnya berbagai bentuk disinformasi yang dapat membingungkan masyarakat. Kondisi tersebut menuntut setiap individu untuk memiliki kemampuan berpikir kritis sehingga tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Selain persoalan informasi, Dr. Iswadi juga menyoroti pentingnya menjaga keamanan data pribadi dalam penggunaan berbagai platform berbasis AI. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan memasukkan data yang bersifat rahasia ke dalam aplikasi AI tanpa memahami kebijakan perlindungan data yang diterapkan oleh penyedia layanan.
Data pribadi merupakan aset yang sangat berharga. Pengguna harus berhati hati dalam membagikan identitas, informasi keuangan, dokumen penting, maupun data perusahaan kepada layanan AI. Kemudahan teknologi jangan sampai membuat kita lengah terhadap aspek keamanan digital, tegasnya.
Dalam bidang pendidikan, Dr. Iswadi melihat AI memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar apabila digunakan secara bijaksana. Guru dapat memanfaatkan AI sebagai media pendukung dalam menyusun perangkat pembelajaran, membuat soal evaluasi, mengembangkan metode pengajaran, maupun mencari referensi akademik yang relevan.
Sementara itu, mahasiswa dan pelajar dapat menggunakan AI sebagai asisten belajar untuk memahami materi yang kompleks, memperoleh penjelasan tambahan, mencari inspirasi dalam penulisan karya ilmiah, serta memperluas wawasan terhadap berbagai disiplin ilmu.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa AI tidak boleh dijadikan jalan pintas untuk menyelesaikan tugas akademik tanpa memahami substansi materi yang dipelajari.
AI seharusnya menjadi asisten belajar, bukan pengganti proses berpikir. Pendidikan bertujuan membentuk karakter, kreativitas, kemampuan analisis, dan pemecahan masalah. Semua itu tetap membutuhkan kemampuan manusia yang tidak dapat digantikan oleh teknologi, ungkapnya.
Lebih lanjut, Dr. Iswadi menilai perkembangan AI juga akan membawa perubahan besar terhadap dunia kerja. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat diselesaikan dengan lebih cepat melalui bantuan teknologi berbasis AI. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti AI akan sepenuhnya menggantikan peran manusia.
Menurutnya, kompetensi yang bersifat khas manusia justru akan semakin bernilai pada masa depan. Kemampuan kepemimpinan, komunikasi, empati, kreativitas, kolaborasi, serta pengambilan keputusan yang mempertimbangkan nilai nilai etika akan menjadi keunggulan yang sulit digantikan oleh mesin.
Persaingan di masa depan bukan lagi antara manusia dan AI, tetapi antara mereka yang mampu memanfaatkan AI secara efektif dengan mereka yang tidak mau beradaptasi terhadap perubahan teknologi. Karena itu, peningkatan kompetensi digital harus menjadi prioritas bersama, katanya.
Dr. Iswadi juga mengajak pemerintah, institusi pendidikan, dunia usaha, komunitas, serta masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya penggunaan AI yang bertanggung jawab. Menurutnya, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan agar perkembangan teknologi dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan nasional sekaligus meminimalkan berbagai risiko yang mungkin muncul.
Ia menilai penguatan literasi digital harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan, seminar, lokakarya, serta berbagai program edukasi yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami prinsip kerja, etika, keamanan, serta konsekuensi dari pemanfaatan teknologi tersebut.
Selain itu, Dr. Iswadi mendorong lahirnya regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi AI. Menurutnya, kebijakan yang tepat akan mampu menciptakan keseimbangan antara dorongan terhadap inovasi dan perlindungan terhadap hak hak masyarakat sebagai pengguna teknologi.
Teknologi akan terus berkembang dengan sangat cepat, tetapi nilai nilai kemanusiaan tidak boleh ditinggalkan. AI harus menjadi alat yang membantu meningkatkan kualitas hidup, memperluas akses terhadap pengetahuan, mempercepat inovasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa mengurangi kemampuan berpikir manusia, tuturnya.
Menutup pernyataannya, Dr. Iswadi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memandang AI sebagai mitra dalam belajar, bekerja, dan berinovasi, bukan sebagai pengganti kemampuan manusia. Menurutnya, keseimbangan antara kemajuan teknologi, etika, literasi digital, dan tanggung jawab sosial merupakan kunci dalam membangun masa depan digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Gunakan AI untuk belajar lebih banyak, bekerja lebih cerdas, dan menciptakan inovasi yang lebih luas. Namun, tetap utamakan akal sehat, integritas, tanggung jawab, dan nilai nilai kemanusiaan dalam setiap pemanfaatannya. Masa depan digital akan menjadi lebih baik apabila manusia tetap memegang kendali atas teknologi yang diciptakannya,pungkas Dr. Iswadi.##
