Usai Diuji Al-Qur’an, Empat Rival Pilchiksung Tualang Teungoh Malah Ngopi Semeja

Caption : Suasana Coffee bareng empat bakal calon geuchik Gampong Tualang Teungoh bersama unsur perangkat Gampong dan Panitia Pemilihan Geuchik

LANGSA | Infonewsnusantara.com – Di tengah suhu politik desa yang biasanya memanas menjelang pemilihan geuchik, pemandangan berbeda justru terlihat dari para bakal calon Geuchik Gampong Tualang Teungoh, Kecamatan Langsa Kota. Alih-alih saling membangun sekat politik, empat bakal calon geuchik memilih duduk semeja sambil menikmati kopi di salah satu kafe di Kota Langsa.

Momen yang menyita perhatian itu terjadi sesaat setelah keempat bakal calon menuntaskan uji baca Al-Qur’an, salah satu syarat wajib yang harus dipenuhi calon pemimpin di Aceh sesuai qanun yang berlaku.

Langkah para bakal calon tersebut dinilai sebagai sinyal kuat bahwa kontestasi Pilchiksung Tualang Teungoh akan berlangsung sehat dan jauh dari praktik politik yang memecah belah masyarakat.

“Bersaing boleh, bermusuhan jangan. Siapa pun yang terpilih nantinya adalah pilihan masyarakat dan harus didukung bersama demi kemajuan gampong,” ujar Chaidir ketua P2G yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Acara coffee bareng itu turut dihadiri Penjabat Geuchik Gampong Tualang Teungoh Ferizal Hasan, S.STP, Imum Gampong Drs. Ibrahim Bay, Khatib Masjid Zakaria, Ketua Tuha Peut Samsul Bahri beserta anggota, Ketua P2G bersama anggota, kepala KUA Langsa Kota, serta sejumlah tokoh masyarakat Gampong Tualang Teungoh.

Dalam suasana santai namun penuh makna, para tokoh gampong mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah warga menjelang pemilihan geuchik.

Fenomena empat bakal calon duduk semeja ini menjadi pemandangan yang jarang terlihat dalam dinamika politik lokal. Di saat banyak kontestasi politik diwarnai polarisasi pendukung, para bakal calon Geuchik Tualang Teungoh justru memperlihatkan kedewasaan politik dengan mengedepankan silaturahmi dan kebersamaan.

Pesan yang ingin disampaikan pun jelas, pertarungan hanya terjadi di bilik suara, bukan di tengah masyarakat.

Kini perhatian publik tertuju pada tahapan Pilchiksung berikutnya. Namun satu hal yang mulai terbaca, para bakal calon telah memberi contoh bahwa demokrasi di tingkat gampong tidak harus meninggalkan nilai-nilai persaudaraan yang selama ini menjadi kekuatan utama masyarakat Aceh.

Pilchiksung boleh menghadirkan kompetisi, tetapi persatuan tetap menjadi harga mati. (Anes)