Jakarta|INN.com
Momentum Hari Bumi pada 22 April 2026 dimaknai secara berbeda oleh Arief Martha Rahadyan. Dalam sebuah pernyataan strategis, Arief memperkenalkan konsep baru bertajuk “Kedaulatan Ekologis Berbasis Data”, sebuah pendekatan yang belum banyak diangkat dalam diskursus nasional maupun global.
Krisis lingkungan saat ini tidak lagi cukup dijawab dengan pendekatan normatif seperti kampanye penghijauan atau pengurangan sampah semata. Ia menilai bahwa era digital menuntut tata kelola lingkungan yang lebih presisi, berbasis data real-time, serta terintegrasi dengan sistem kebijakan publik.Kedaulatan ekologis bukan sekadar menjaga alam, tetapi memastikan bahwa setiap keputusan pembangunan didasarkan pada data lingkungan yang akurat, transparan, dan dapat dipertanggung jawabkan,” ujarnya.
Arief menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang besar menjadi pelopor dalam transformasi ini. Dengan kekayaan biodiversitas dan posisi strategis dalam geopolitik lingkungan global, Indonesia dinilai mampu membangun sistem ecological intelligence yang menggabungkan teknologi satelit, kecerdasan buatan, serta partisipasi masyarakat berbasis digital. Ia menyebut, model ini dapat menjadi fondasi baru dalam merumuskan kebijakan lintas sektor, mulai dari energi, pangan, hingga tata ruang.
Dalam gagasannya, Arief juga mengkritisi pendekatan pembangunan yang selama ini cenderung eksploitatif dan tidak adaptif terhadap dinamika perubahan iklim. Ia menawarkan kerangka green governance 5.0, di mana pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil terhubung dalam satu ekosistem data yang memungkinkan pengambilan keputusan secara kolaboratif dan responsif.Kita harus beralih dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi regeneratif yang terukur secara digital,” tegasnya.
Yang menarik, konsep ini juga mengusulkan pembentukan Indeks Kedaulatan Ekologis Nasional, sebuah indikator baru yang mengukur sejauh mana suatu negara mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Indeks ini tidak hanya mempertimbangkan emisi karbon, tetapi juga kualitas tanah, air, keanekaragaman hayati, hingga partisipasi publik dalam pengawasan lingkungan.
Arief mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan Hari Bumi 2026 sebagai titik balik dalam membangun peradaban yang lebih sadar data dan berorientasi masa depan.Jika kita ingin bertahan di abad ini, maka lingkungan tidak boleh lagi diposisikan sebagai variabel tambahan, melainkan sebagai pusat dari seluruh sistem pembangunan,” pungkasnya.
