Arief Martha Rahadyan: Mengawal Gagasan, Menggerakkan Perubahan

Jakarta|INN.com

Di tengah laju modernisasi yang semakin cepat dan penetrasi globalisasi yang kian masif.Arief Martha Rahadyan mengatakan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak boleh mengorbankan identitas kultural yang menjadi akar kekuatan.

Pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan dimensi budaya berpotensi melahirkan masyarakat yang tercerabut dari jati dirinya. Fenomena ini mulai terlihat di sekitar kita, di mana nilai-nilai lokal perlahan tergeser oleh arus modernisasi yang tidak terfilter.Kemajuan tidak boleh menghapus jati diri. Budaya adalah fondasi yang memberi arah pada pembangunan, bukan sekadar ornamen yang dilestarikan secara simbolik,” ujar Arief.

Arief menjelaskan bahwa budaya daerah sejatinya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan aset strategis yang memiliki nilai ekonomi, sosial, dan identitas kebangsaan. Budaya dapat menjadi kekuatan diferensiasi yang memperkuat daya saing, khususnya dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Banyak daerah memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, namun belum dikelola secara optimal. Bahkan, dalam beberapa kasus, generasi muda mulai kehilangan keterikatan terhadap tradisi lokal akibat kurangnya ruang ekspresi dan minimnya integrasi budaya dalam sistem pendidikan maupun kebijakan publik.

Arief berharap adanya langkah-langkah strategis yang terintegrasi untuk memastikan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ia mengusulkan penguatan kebijakan berbasis budaya, digitalisasi warisan budaya, serta pelibatan aktif generasi muda sebagai pelaku utama dalam proses pelestarian.

Pelestarian budaya tidak cukup dengan seremoni. Harus ada transformasi yang membuat budaya tetap relevan dengan kehidupan generasi hari ini, tanpa kehilangan nilai aslinya,” tegasnya.

Modernisasi dan pelestarian budaya bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan jika dikelola dengan pendekatan yang tepat. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

Arief juga mengingatkan bahwa identitas budaya merupakan bagian dari kekuatan lunak (soft power) bangsa yang memiliki peran strategis dalam membangun citra Indonesia di mata dunia.

Arief mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tidak menjadikan budaya sebagai aspek pelengkap, melainkan sebagai pilar utama dalam arah pembangunan nasional.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga akar budayanya, sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman. Tanpa identitas, kemajuan hanya akan menjadi kehilangan yang tak disadari,” pungkasnya.