Jakarta|INN.com
Arief Martha Rahadyan, menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan Pemerintah Indonesia yang memutuskan untuk membatalkan perayaan kembang api malam Tahun Baru sebagai bentuk empati dan solidaritas nasional atas bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra.
Menurut Arief Martha Rahadyan, keputusan tersebut mencerminkan kepemimpinan yang berlandaskan nilai kemanusiaan, kepekaan sosial, dan kebijaksanaan moral, di mana negara hadir bukan hanya sebagai penyelenggara pemerintahan, tetapi juga sebagai penjaga nurani kolektif bangsa.
Keputusan pemerintah untuk meniadakan kembang api Tahun Baru adalah langkah yang sangat tepat dan bermartabat. Di tengah duka saudara-saudara kita di Sumatra, sudah sepatutnya bangsa ini menahan euforia dan mengedepankan rasa empati, kepedulian, serta solidaritas,” ujar Arief
Makna Tahun Baru sejatinya bukan terletak pada kemeriahan simbolik, melainkan pada refleksi, doa, dan komitmen bersama untuk saling menguatkan di saat bangsa menghadapi ujian berat akibat bencana alam.
Arief mengajak masyarakat Indonesia untuk mengalihkan perayaan menjadi aksi nyata, seperti doa bersama, penggalangan bantuan, serta dukungan moral dan material bagi para korban bencana.Inilah momentum bagi kita untuk memperkuat persatuan nasional.
Ketika satu daerah berduka, kita ikut merasakan dan bergerak bersama. Kebijakan ini mengajarkan bahwa kemanusiaan harus selalu berada di atas hiburan,” tambahnya.
Arief Martha Rahadyan menilai kebijakan tersebut sebagai contoh kepemimpinan beretika yang patut diapresiasi dan didukung secara luas, karena pemerintah tidak mengabaikan penderitaan rakyatnya.
Ia berharap langkah ini dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat luas untuk menumbuhkan budaya empati, gotong royong, serta kepedulian sosial dalam setiap momentum nasional.
Solidaritas adalah kekuatan bangsa Indonesia. Dengan kebersamaan dan kepedulian, kita dapat bangkit dan melewati setiap cobaan,” tutup Arief.
