Berita  

Kearifan Lokal yang Mulai Hilang Diam-Diam, Arief Martha Rahadyan Ingatkan Krisis Nilai di Tengah Modernitas

Jakarta|INN.com

Tokoh muda nasional Arief Martha Rahadyan, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap memudarnya kearifan lokal yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Indonesia, proses hilangnya nilai-nilai tersebut berlangsung secara perlahan namun sistematis, seiring dengan derasnya arus modernisasi dan perubahan pola hidup masyarakat.

Arief menyampaikan, bahwa kearifan lokal yang mencakup praktik kehidupan sehari-hari yang sarat nilai, seperti gotong royong, sopan santun, rasa hormat kepada orang tua, hingga kepedulian sosial antar masyarakat

telah terjadi pergeseran nilai secara diam-diam,seperti hal nya gotong royong yang mulai tergantikan oleh sikap individualistik, dan sopan santun perlahan dianggap tidak lagi relevan dalam interaksi modern,” ujarnya.

Fenomena ini perlu menjadi perhatian serius, karena berpotensi melemahkan kohesi sosial dan identitas kolektif bangsa. Masyarakat saat ini cenderung terjebak pada orientasi pragmatis dan instan, sehingga nilai-nilai luhur yang membutuhkan proses dan pembiasaan mulai terabaikan.

Arief mengatakan, hilangnya kearifan lokal tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses adaptasi yang tidak disadari, terutama dalam lingkungan keluarga dan pendidikan. Arief menyarankan pentingnya peran orang tua dan institusi pendidikan dalam mentransmisikan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda.

Ketika anak-anak tidak lagi dibiasakan untuk menghormati, membantu tanpa pamrih, atau memahami makna kebersamaan, maka yang hilang bukan hanya kebiasaan, tetapi juga karakter bangsa itu sendiri,” tegasnya.

Arief juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan refleksi kolektif terhadap arah perkembangan sosial saat ini. Ia menilai dengan kemajuan teknologi dan globalisasi tidak seharusnya menghilangkan akar budaya, melainkan justru menjadi sarana untuk memperkuat identitas lokal.

Arief mendorong adanya revitalisasi kearifan lokal melalui pendekatan yang adaptif dan kontekstual, sehingga nilai-nilai tradisional tetap relevan di tengah dinamika zaman. Pelestarian kearifan lokal tidak cukup dilakukan melalui simbol atau kegiatan seremonial semata, tetapi harus diintegrasikan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Jika kita tidak mulai dari sekarang, maka kita akan kehilangan lebih dari sekadar tradisi. Kita akan kehilangan cara hidup yang selama ini menjaga keseimbangan sosial,” pungkasnya.

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di tengah percepatan perubahan global, menjaga kearifan lokal bukan hanya tanggung jawab budaya, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan jati diri bangsa.