SUBULUSSALAM – INN.com
Rumah milik Syahbudin Padank, jurnalis aktif 1kabar.com sekaligus Wakil Ketua DPW FRN Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh, menjadi sasaran teror pelemparan batu oleh orang tak dikenal pada Sabtu malam (5/10/2025).
Akibatnya, kaca belakang mobil pribadinya pecah berantakan, sementara sang istri dan anaknya dilanda trauma mendalam.
Peristiwa terjadi di Dusun Lae Mbetar, Desa Sikalondang, Kecamatan Simpang Kiri, diduga kuat terkait pemberitaan yang menyinggung pencurian sawit, motor bodong, dan aktivitas mabuk-mabukan di kawasan tersebut.
“Saya dan keluarga merasa sangat trauma dan tidak aman. Ini bukan teror pertama,” ungkap Syahbudin dengan suara gemetar, Minggu (6/10).
Beberapa waktu sebelumnya, Syahbudin juga pernah diancam akan dibacok oleh seorang pria berinisial P yang datang membawa parang ke depan rumahnya sekitar pukul 01.00 dini hari.
“Padang, ku bacok kau! Ku bacok kau!” teriak pelaku di depan rumah.
Tim Resmob Polres Subulussalam langsung turun dan menemukan pelaku dalam kondisi diduga mabuk berat. Meski sempat dimediasi dan pelaku meminta maaf, rasa takut belum hilang.
“Kami terus diintimidasi. Saya juga mendapat pesan ancaman dari seseorang berinisial N yang menuduh saya menyebar berita hanya karena saya wartawan,” ujarnya.
Serangan terhadap wartawan dianggap bentuk pelecehan terhadap Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan penghinaan terhadap hak publik untuk mendapatkan informasi.
> “Kalau wartawan diteror hanya karena menyampaikan suara rakyat, lalu siapa lagi yang bisa bicara?” ujar seorang tokoh masyarakat di Desa Sikalondang.
Masyarakat bersama kalangan pers mendesak aparat untuk:
1. Menangkap pelaku pelemparan batu dan pengancam bacok.
2. Menertibkan pelaku mabuk-mabukan dan premanisme.
3. Menjamin keamanan wartawan di Subulussalam
PJS ACEH: “INI PELANGGARAN BERAT TERHADAP PERS!”
Ketua Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Provinsi Aceh, Chaidir Toweren, mengecam keras aksi teror terhadap jurnalis tersebut.
“Ini bukan sekadar ancaman terhadap satu wartawan, tapi serangan brutal terhadap kebebasan pers. Melempar batu ke rumah jurnalis sama dengan melempar wajah demokrasi,” tegas Chaidir Toweren.
Ia menegaskan, Kapolda Aceh dan Kapolres Subulussalam harus segera turun tangan.
“Jangan tunggu korban berikutnya. Wartawan bekerja untuk rakyat, bukan untuk ditakuti,” ujarnya.
“Membungkam wartawan berarti membungkam suara rakyat. Dan itu kejahatan terhadap demokrasi,” tutupnya tajam. (Tim)
Catatan Redaksi
Serangan terhadap wartawan bukan sekadar kekerasan fisik. Itu adalah teror terhadap kebenaran, serangan terhadap nurani, dan pengkhianatan terhadap demokrasi.
Negara tidak boleh diam. Pers tidak akan mundur.
