Banda Aceh | InfoNewsNusantara.com — 4 Oktober 2025 – “Apa warisan yang ingin Anda tinggalkan untuk Aceh? Pembangunan atau kehancuran?” Pertanyaan ini dilontarkan dengan nada tajam oleh Drs. M. Isa Alima, pemerhati kebijakan publik, kepada para pemangku kepentingan , tokoh adat,tokoh masyarakat, akademisi dan para pejabat bublik serta politisi sernior di Aceh. Ia mengingatkan bahwa kualitas komunikasi publik dapat menjadi kunci kemajuan, namun juga bisa menjadi pemicu konflik dan perpecahan.
“Komunikasi publik adalah pedang bermata dua. Jika digunakan dengan bijak, dapat membangun jembatan persatuan dan mendorong pembangunan. Namun, jika digunakan dengan sembrono, dapat merusak reputasi Aceh dan menghambat kemajuan,” ujar Isa Alima dengan nada prihatin.
Isa Alima, yang juga Sekjen Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Aceh dan mantan Ketua Komisi C DPRK Pidie, menyoroti maraknya penggunaan media sosial sebagai arena saling serang dan penyebaran informasi yang tidak akurat. Ia mengingatkan para pablik figur untuk lebih bertanggung jawab dalam berkomunikasi di ruang publik.
“Jangan biarkan media sosial menjadi ajang untuk saling menyalahkan, menyebarkan fitnah, atau memprovokasi kebencian. Sebagai pemimpin, kita harus memberikan contoh yang baik dalam berkomunikasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Isa Alima mengajak para pemangku kepentingan dan segenap para tokoh-toloh dalam berbagai disilin ilmu untuk lebih fokus pada solusi dan menghindari segala bentuk retorika yang kontraproduktif. Ia mendorong mereka untuk membangun dialog yang konstruktif dengan masyarakat, serta mendengarkan aspirasi dan keluhan mereka.
“Kita harus lebih fokus pada mencari solusi untuk masalah-masalah yang dihadapi Aceh, daripada saling menyalahkan atau mencari popularitas murahan. Mari kita bangun Aceh dengan kerja keras, bukan dengan kata-kata manis,” ujarnya.
Isa Alima berharap, para pemangku kepentingan, pejabat publik, publik figur dan tokoh akademisi serta para tokoh politik senior, orang dapat menyadari betapa pentingnya menjaga komunikasi publik yang sehat dan produktif. Ia mengingatkan bahwa warisan terbaik yang dapat ditinggalkan untuk Aceh adalah komunikasi yang santun, jujur, dan bertanggung jawab, yang menjadi fondasi bagi pembangunan yang berkelanjutan.
“Mari kita jaga lisan, jaga reputasi Aceh! Jangan biarkan komunikasi publik menjadi arena saling serang yang merugikan kita semua. Dengan komunikasi yang baik, kita dapat membangun Aceh yang lebih maju, sejahtera, dan bermartabat,” pungkas Isa Alima dengan penuh semangat. (##)
