Wartawan Penembak di Atas Kuda: Pagi Menyerang, Siang Meralat

Oleh : Redaksi Info News Nusantara (INN)

Caption : Ilustrasi penembak diatas kuda

INN.com — Fenomena “wartawan penembak di atas kuda” kembali merebak di Kota Langsa. Istilah ini bukan sekadar kiasan, melainkan gambaran nyata tentang perilaku sebagian oknum jurnalis yang bergerak cepat tanpa arah, menembakkan berita tanpa sasaran jelas, lalu mundur tergesa-gesa begitu mendapat tekanan atau imbalan.

Mereka muncul pagi hari dengan semangat “menyerang,” menyebar berita sensasional tanpa konfirmasi, tanpa klarifikasi, seolah etika jurnalistik tak lagi punya tempat di ruang redaksi. Lalu, siang hari, ketika telepon dari pihak yang diberitakan masuk atau “amplop ringgit” berpindah tangan, berita itu mendadak diralat, dihapus, atau diganti dengan narasi pembelaan.

Inilah wajah kelam sebagian pers lokal yang seharusnya menjadi pilar keempat demokrasi. Wartawan yang seharusnya menjadi pengawas, kini justru memperdagangkan pena demi kepentingan sesaat. Mereka tidak lagi berperang untuk kebenaran, melainkan berburu keuntungan dengan menunggang kuda bernama klikbait dan berlindung di balik atribut “media online.”

Padahal, dalam Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, tugas wartawan jelas: menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Berita yang disiarkan tanpa konfirmasi adalah pelanggaran kode etik. Lebih parah lagi, jika berita menjadi alat barter untuk “damai,” itu bukan lagi jurnalistik itu pemerasan terselubung yang merusak marwah profesi.

Kota Langsa, yang sedang tumbuh dengan geliat pembangunan dan demokrasi, tidak pantas menjadi ladang praktik jurnalisme kuda liar seperti ini. Media yang benar harus mendidik, bukan menakut-nakuti. Wartawan yang sejati menulis dengan nurani, bukan dengan nominal.

Sudah saatnya organisasi profesi, seperti Dewan Pers dan asosiasi media di daerah, turun tangan menertibkan perilaku semacam ini. Jangan biarkan profesi mulia ini dicemari oleh oknum yang hanya menjadikan berita sebagai alat transaksi.

Pers adalah cermin masyarakat. Jika cerminnya retak karena kerak tamak, maka bayangan yang muncul pun akan menyesatkan.
Mari kembalikan jurnalisme ke jalan yang benar di mana pena lebih tajam dari pedang, tapi juga lebih jujur dari ringgit.