Infonewsnusantara.com — Di dunia olahraga, khususnya tinju, kisah kejayaan kerap ditulis dengan huruf besar. Nama atlet dielu-elukan, kemenangan dirayakan, dan rekor dipajang seperti etalase kebanggaan.
Namun sejarah juga menyimpan bab-bab kecil yang jarang dibaca, padahal justru di sanalah makna sportivitas dan pengabdian diuji. Salah satu bab itu adalah kisah Muhammad Ali, petinju asal Langsa yang akrab disapa Wak Li.
Wak Li bukan petinju kampung yang hanya bertarung di level lokal. Pada era 1980–1990-an, ia mengikuti berbagai kejuaraan tinju tingkat nasional, membawa nama daerahnya ke gelanggang yang lebih luas. Ia berdiri sejajar dengan petinju-petinju dari kota besar, bertarung dalam atmosfer kompetisi yang keras dan penuh gengsi. Di masa itu, lolos ke level nasional saja sudah menjadi prestasi, terlebih bagi atlet dari daerah yang fasilitas olahraganya terbatas.
Dari Langsa ke Ring Nasional
Perjalanan Wak Li menuju ring nasional bukan kisah instan. Ia lahir dari latihan keras di sasana sederhana, dengan peralatan seadanya. Tidak ada sport science, tidak ada nutrisi khusus, apalagi dukungan finansial memadai. Yang ada hanya disiplin, keberanian, dan tekad untuk membuktikan bahwa petinju dari Langsa mampu bersaing.
Saat Wak Li berlaga di kejuaraan nasional, kebanggaan itu terasa kolektif. Ia tidak hanya membawa nama dirinya sendiri, tetapi juga harapan daerah. Di setiap pukulan yang dilepaskan, ada identitas Langsa yang ikut bertarung. Di setiap ronde yang dilewati, ada pesan diam-diam: daerah kecil pun punya kualitas.
Namun, seperti banyak atlet sezamannya, Wak Li bertarung di era ketika sistem olahraga belum berpihak pada masa depan atlet. Nasional, ya. Profesional, belum tentu. Seusai pertandingan, hidup kembali berjalan seperti biasa tanpa kontrak jangka panjang, tanpa jaminan kesehatan, tanpa peta jalan pasca-karier.
Prestasi yang Tak Berumur Panjang
Mengikuti kejuaraan nasional seharusnya menjadi batu loncatan. Di negara dengan sistem olahraga matang, atlet seperti Wak Li akan masuk dalam pembinaan lanjutan, disiapkan sebagai pelatih, atau setidaknya dicatat sebagai aset olahraga daerah. Namun realitas berkata lain.
Generasi baru muncul. Nama Wak Li perlahan memudar dari ingatan publik. Hari ini, ia menyongsong masa tua dengan kesederhanaan yang nyaris menyentuh garis keprihatinan. Hidup dari pekerjaan serabutan, tanpa kejelasan penghasilan. Tidak ada pensiun atlet, tidak ada perhatian khusus.
“Tidak pernah ada perhatian pemerintah,” ujar Wak Li dengan nada datar. Ia tidak berbicara dengan kemarahan, melainkan dengan kelelahan panjang. Kalimat itu seolah mewakili nasib banyak mantan atlet nasional yang berjasa, namun terlewat dari radar kebijakan.
Olahraga Nasional dan Wajah Aslinya
Kisah Wak Li memaksa kita bertanya ulang: apa arti mengikuti kejuaraan nasional jika negara hanya hadir di saat pertandingan? Apakah nasionalisme dalam olahraga berhenti ketika bel terakhir dibunyikan?
Majalah olahraga sering kali sibuk membahas siapa juara hari ini, siapa bintang masa depan, siapa yang layak dipanggil pelatnas. Jarang sekali ada ruang untuk membahas “ke mana mereka yang dulu pernah bertarung untuk negeri ini.” Wak Li adalah contoh nyata bahwa prestasi nasional tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan.
Di atas ring nasional, Wak Li pernah beradu teknik, fisik, dan mental. Di luar ring, ia kini beradu dengan waktu dan kebutuhan hidup. Ironisnya, pertarungan terakhir ini justru dijalani sendirian.
Warisan yang Hilang
Padahal, pengalaman mengikuti kejuaraan nasional adalah aset berharga. Wak Li menyimpan pengetahuan tentang ritme pertandingan, tekanan mental, dan etika bertanding di level tertinggi. Ia bisa menjadi guru bagi generasi muda, pelatih komunitas, atau inspirasi hidup bagi atlet pemula.
Namun tanpa kebijakan yang berpihak, warisan itu mengendap tanpa wadah. Negara kehilangan mentor, daerah kehilangan inspirator, dan olahraga kehilangan kesinambungan. Kita terus berbicara tentang regenerasi atlet, tetapi lupa bahwa regenerasi butuh jembatan dan jembatan itu adalah para mantan atlet seperti Wak Li.
Mengurus mantan atlet bukan soal belas kasihan. Ini soal tanggung jawab moral dan politik. Atlet nasional, meski tidak selalu juara, telah mengorbankan waktu, tenaga, dan kesehatan demi membawa nama daerah dan bangsa. Pendataan, jaminan sosial dasar, akses kesehatan, serta peluang ekonomi pasca-karier seharusnya menjadi bagian dari sistem olahraga nasional.
Jika atlet nasional saja harus menua dalam ketidakpastian, bagaimana dengan atlet daerah yang bermimpi naik kelas? Pesan apa yang kita sampaikan pada generasi muda ketika mereka melihat Wak Li hari ini?
Pukulan yang Tak Pernah Dibalas
Wak Li pernah memukul demi harga diri olahraga. Ia pernah berdiri di ring nasional, menghadapi lawan-lawan terbaik zamannya. Namun hari ini, pukulan pengabdiannya tak pernah dibalas oleh sistem.
Dalam tinju, setiap pukulan yang tak dijaga akan berujung knockdown. Dalam kebijakan olahraga, setiap pengabaian akan melahirkan ketidakadilan. Kisah Wak Li adalah alarm keras bahwa olahraga Indonesia masih gemar merayakan kemenangan, tetapi gagap merawat pengabdian.
Mengingat Wak Li, Mengingat Diri Kita
Wak Li mungkin tak lagi kuat mengikat sarung tinju. Tapi kisahnya masih kuat untuk mengguncang nurani kita. Ia adalah potret atlet nasional dari daerah, yang pernah berjaya, lalu dilupakan. Jika majalah olahraga hanya menulis tentang kemenangan hari ini, maka ia ikut berkontribusi pada lupa kolektif itu.
Mengingat Wak Li berarti mengingat bahwa olahraga bukan sekadar podium. Ia adalah perjalanan manusia dari mimpi, perjuangan, hingga hari tua. Dan pertanyaannya kini bukan lagi tentang apa yang telah Wak Li lakukan untuk olahraga, melainkan: apa yang telah olahraga dan negara lakukan untuk Wak Li?
Laporan : Chaidir
