Sekber Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis Serukan Pemerintah Segera Tutup PT. Toba Pulp Lestari Pasca Bencana Ekologis Besar di Sumatera Utara

MEDAN | infonewsnusantara.com

Sekretariat Bersama (Sekber) Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis menyerukan pemerintah segera menutup PT Toba Pulp Lestari (TPL) pasca bencana ekologis besar yang menyebabkan banyaknya korban meninggal dunia, kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan pekerjaan, Jumat (19/12/2025).

Seruan tersebut bergema saat menggelar konfrensi pers di Kantor Sekretariat JPC Kapusin Jalan Mongonsidi Nomor : 45, Kelurahan Polonia, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, Jumat (19/12/2025) dengan narasumber Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST, Ketua Sekretariat Bersama (Sekber), Pastor Walden Sitanggang, OFM.cap, Sekretaris Sekretariat Bersama (Sekber), Pdt. Dr. JP. Robinsar Siregar, M.Th, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Horas Bangso Batak (HBB), Lamsiang Sitompul, SH., MH, Direktur Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Rocky Pasaribu, korban bencana Sihaporas, Mersi Silalahi, korban bencana Tapanuli Utara, Janner Hutapea dengan moderator Ketua Pelaksana Harian AMAN Wilayah Tano Batak, Jhontoni Tarihoran.

Dalam pernyataannya, Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST mengingatkan berdasarkan bencana alam yang terjadi, pemerintah harus tegas menutup para perusahaan perusak lingkungan tersebut, terutama PT. Toba Pulp Lestari (TPL). Disebutnya, bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Sumatera hanyalah tanda-tanda awal dari kerusakan lingkungan yang sudah sangat parah dan jika terlambat mengambil sikap maka bencana yang lebih besar akan menyusul.

“Sebelumnya kami menyampaikan bahwa bencana alam yang terjadi ini adalah akibat ulah manusia. Kami juga menyampaikan turut berbelasungkawa kepada korban. Kemudian kami mengapresiasi kerja sama semua pihak yang telah menunjukkan solidaritas yang tinggi membantu masyarakat yang terdampak bencana alam,” ucap Pdt Dr Victor.

Ephorus mengapresiasi Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto yang tegas memerintahkan Kementeriaan Kehutanan untuk mengaudit total PT. Toba Pulp Lestari (TPL) dan untuk sementara aktivitas PT. Toba Pulp Lestari (TPL) ditutup. “Kita patut mengapresisasi pemerintah yang sudah memerintahkan agar Toba Pulp Lestari (TPL) diaudit total dan telah menutup sementara. Namun yang namanya evaluasi total harus dicek semua, harus secara keseluruhan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat,” katanya. Namun begitu, lanjut Ephorus, pemerintah harus tegas. Jangan hanya menutup sementara dan hanya dievaluasi atau diaudit, tetapi harus ditutup permanen. Sebab jika tidak ditutup permanen, dikhawatirkan akan ada bencana yang lebih besar akan menyusul.

“Kalau dalam 4 dekade ini suara rakyat, suara pendeta, suara pastor suara aktivis tidak didengar, maka sekarang ini alam yang bersuara. Suara alam tidak bisa ditutupi. Korbannya juga sangat banyak. Dengan peristiwa ini apalagi yang mau ditunggu, apalagi lagi yang mau dibuktikan,” tegas orang nomor satu di HKBP ini.

Pdt Dr Victor menegaskan lagi, jika pemerintah tidak menutup Toba Pulp Lestari (TPL) dan Perusahaan perusak lingkungan lainnya, maka ke depannya situasinya akan semakin sulit. “Lahan-lahan produktif masyarakat sudah tertimbun, hunian sudah hancur, ke depan akan sangat sulit, maka sekali lagi kami minta pemerintah harus tegas tutup Perusahaan Toba Pulp Lestari (TPL),” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Sekretariat Bersama (Sekber), Pastor Walden Sitanggang, menyebut masyarakat menagih janji Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution mengeluarkan rekomendasi tutup PT. Toba Pulp Lestari (TPL). Ia meminta Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution memperlihatkan surat rekomendasi tutup Toba Pulp Lestari (TPL) yang katanya sudah tandatanganinya tersebut. “Katanya sudah dia tandatangani. Tapi sampai saat ini kami belum pernah melihat apalagi menerimanya. Memang ada postingannya di akun media sosial beliau, tapi itu belum cukup jelas,” akunya.

Senada dengan Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pastor Walden menegaskan PT. Toba Pulp Lestari (TPL) harus ditutup secara permanen. “Jika pemerintah pusat sudah menutup sementara, kami tetap meminta pemerintah menutup Toba Pulp Lestari (TPL) secara permanen. Tidak ada tawar menawar. Alam dan Ilahi sudah bersuara, bencana sudah terjadi dan menelan banyak korban. Jangan sampai bencana alam lebih besar datang,” tegas Pastor Walden.

Selanjutnya, Direktur Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Rocky Pasaribu mengatakan PT. Toba Pulp Lestari (TPL) sudah dipastikan penyebab bencana yang terjadi di Sumatera. Diterangkan nya, pembukaan lahan baru, praktik pemanenan eucalyptus setiap 4–5 tahun yang dilakukan PT. Toba Pulp Lestari (TPL) penyebab terbentuknya lahan terbuka yang secara masif meningkatkan kerentanan terhadap bencana ekologis. Disambungnya, 6 dari 12 Kabupaten/Kota yang merupakan lokasi konsesi PT. Toba Pulp Lestari (TPL), tercatat sebagai wilayah terdampak bencana alam yang sangat parah.

“Bencana alam yang terjadi ini adalah akumulasi dari kerusakan yang terjadi. Salah satu perusahaan yang paling bertanggungjawab adalah Toba Pulp Lestari (TPL). Tidak ada kata lain, Toba Pulp Lestari (TPL) harus tutup permanen,” tandas Rocky.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Horas Bangso Batak (HBB), Lamsiang Sitompul, SH., MH dalam pernyataannya mengatakan pemerintah harus tegas menutup PT. Toba Pulp Lestari (TPL) seperti perusahaan lainnya penyebab bencana dan akan mengambil langkah hukum terhadap PT. Toba Pulp Lestari (TPL) yang sudah menyebabkan banyaknya korban jiwa.

“Terhadap 22 Perusahaan yang terlibat penyebab bencana alam, pemerintah lewat Kementerian Kehutanan dinyatakan tutup, namun untuk PT. Toba Pulp Lestari (TPL) ini harus ada audit. Ada apa ini. Pemerintah harus tegas menutupnya. Dan kedepannya juga akan mendiskusikan langkah hukum yang ditempuh terhadap PT. Toba Pulp Lestari (TPL) yang menyebabkan banyaknya meninggal dan kerugian lainnya,” urainya.

Kemudian, korban bencana Sihaporas, Mersi Silalahi menceritakan bagaimana keadaan mereka akibat ulah PT. Toba Pulp Lestari (TPL). “Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena operasional PT. Toba Pulp Lestari (TPL). Kami tidak lagi bisa mendapatkan air suci untuk ritual kami dan binatang-binatang pun sudah keluar hutan untuk mencari makan. Kami juga mengkwatirkan banjir bandang di Tapanuli Raya akan terjadi pula ditempat kami,” ujarnya, Jumat (19/12/2025).

Ibu yang suaminya juga dua kali dipenjara akibat melawan keserakahan PT. Toba Pulp Lestari (TPL) merasa kecewa atas penutupan sementara yang disampaikan pemerintah kepada PT. Toba Pulp Lestari (TPL). “Pemerintah menyebut operasional PT. Toba Pulp Lestari (TPL) sementara ditutup, namun mereka tetap beroperasi sehingga kami tetap tidak bisa mengusahai lahan kami. Sehingga sampai saat ini kami masih tergantung pada bantuan,” ungkapnya sedih sembari meminta agar mereka dapat kembali berusaha di tanah mereka.

Korban bencana alam Tapanuli Utara, Jenner Hutapea menyampaikan kondisi daerahnya pasca bencana alam yang tergantung pada bantuan yang ada serta pengerjaan akses jalan yang hanya dibantu dari para perantau. “Kami saat ini masih tergantung pada bantuan dan mirisnya untuk penanggulangan akses jalan yang tertimbun tidak ada dari pemerintah. Kami mengerjakannya sendiri dengan bantuan para perantau yang menyewa alat berat,” jelasnya sembari berharap ada langkah konkrit pemerintah terhadap daerahnya.(***)

Editor : (Alimurtazha)
Penulis : (Zulkarnain Lubis)

Penulis: Zulkarnain LubisEditor: Alimurtazha