Jawa Timur|INN.com
Demokrasi di Indonesia saat ini tengah berada di persimpangan jalan, di mana prosedur formal seringkali mengaburkan esensi dari kedaulatan rakyat yang sesungguhnya. Dalam pandangan Ridwan Hisjam, atau yang akrab disapa Bung RH, demokrasi tidak boleh hanya berhenti pada bilik suara, melainkan harus bertransformasi menjadi sistem yang mampu menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana menggeser paradigma politik biaya tinggi yang transaksional menuju politik gagasan yang lebih mengedepankan etika dan martabat bangsa.
Ridwan Hisjam, atau yang akrab disapa Bung RH, merupakan salah satu figur penting dalam dunia politik Indonesia. Lebih dari tiga dekade, politisi senior Partai Golkar ini konsisten berkiprah di panggung nasional, menjadi saksi sekaligus pelaku dalam perjalanan panjang politik Indonesia—mulai dari era Orde Baru, masa reformasi, hingga dinamika politik modern pasca-pemilu langsung, Rabu (01/04/2026).
Bung RH secara konsisten menekankan bahwa refleksi atas perjalanan reformasi adalah sebuah keharusan untuk melihat sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih menjadi kompas dalam bernegara. Menurutnya, kegaduhan politik yang sering terjadi merupakan residu dari sistem yang terlalu liberal dan kehilangan ruh gotong royong. Transformasi yang diusulkan bukan sekadar perubahan regulasi, melainkan restrukturisasi mentalitas para aktor politik agar kembali pada khitah pengabdian kepada rakyat, bukan pada kepentingan kelompok atau pemilik modal.
Dalam analisisnya, Ridwan Hisjam melihat bahwa demokrasi yang bermartabat hanya bisa dicapai jika ada sinkronisasi antara kemajuan teknologi, kemandirian ekonomi, dan kematangan berpolitik. Sebagai tokoh yang memiliki rekam jejak panjang di parlemen, ia menyadari bahwa transparansi adalah kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik yang mulai terkikis. Bung RH mendorong adanya digitalisasi sistem politik sebagai instrumen untuk meminimalisir celah korupsi dan memastikan aspirasi konstituen terserap secara akurat tanpa distorsi kepentingan pragmatis.
Pendidikan politik yang substantif menjadi pilar penting dalam gagasan transformasi ini agar masyarakat tidak hanya menjadi objek dalam kontestasi kekuasaan. Bung RH berargumen bahwa literasi politik yang kuat akan melahirkan pemilih cerdas yang mampu membedakan antara janji populis dan visi strategis. Dengan demikian, kualitas kepemimpinan nasional akan meningkat karena lahir dari proses seleksi yang sehat dan berbasis meritokrasi, bukan sekadar popularitas semu di media sosial yang seringkali memecah belah bangsa.
Lebih jauh, Ridwan Hisjam sering menyoroti pentingnya menjaga stabilitas nasional tanpa membungkam kebebasan berekspresi sebagai dua sisi mata uang dalam demokrasi. Beliau meyakini bahwa transformasi menuju demokrasi bermartabat memerlukan keberanian untuk mengevaluasi sistem pemilu yang ada agar lebih efisien namun tetap representatif. Bagi Bung RH, energi bangsa yang terkuras dalam konflik horizontal pasca-pemilu harus segera dialihkan menjadi energi kreatif untuk membangun sektor-sektor strategis seperti energi dan pangan.
Kepemimpinan di masa depan, dalam perspektif Ridwan Hisjam, haruslah figur yang mampu menjadi jembatan antar-generasi dan antar-golongan. Transformasi ini menuntut pemimpin yang tidak hanya piawai beretorika, tetapi memiliki kedalaman pemikiran dan keberanian mengambil keputusan pahit demi kepentingan jangka panjang. Bung RH meyakini bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang besar, yakni semangat kekeluargaan, yang jika dikelola dengan manajemen politik yang modern, akan menjadi kekuatan tak tertandingi di kancah global.
Secara analitis, tantangan demokrasi kedepan juga mencakup bagaimana mengelola keberagaman di tengah arus informasi yang kian deras dan seringkali menyesatkan. Bung RH menekankan pentingnya nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagai benteng pertahanan dari ideologi yang tidak selaras dengan jati diri Indonesia. Demokrasi yang bermartabat adalah demokrasi yang menghargai perbedaan pendapat sebagai kekayaan intelektual, bukan sebagai pemantik perpecahan yang menghambat laju pembangunan nasional.
Sebagai penutup, gagasan Ridwan Hisjam mengenai transformasi demokrasi adalah sebuah panggilan untuk kembali pada nilai integritas dan moralitas. Melalui pemikiran ini, diharapkan Indonesia mampu melompat dari demokrasi prosedural menuju demokrasi substansial yang benar-benar memuliakan rakyatnya. Perjalanan menuju demokrasi yang bermartabat memang panjang dan terjal, namun dengan konsistensi dan kolaborasi seluruh elemen bangsa, visi yang diperjuangkan oleh Bung RH ini bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.
Oleh: Koningh Anwar & Alimurtazha
