Ridwan Hisjam: Literasi Pemilih Jadi Kunci Masa Depan Demokrasi Indonesia

Jawa Timur|INN.com

Tokoh nasional dan pemerhati kebijakan publik, Ir. H. M. Ridwan Hisjam, menyoroti tantangan struktural demokrasi Indonesia yang berakar pada profil pendidikan masyarakat. Menelaah transisi data tahun 2024 hingga 2025, beliau menegaskan bahwa efektivitas komunikasi politik sangat bergantung pada pemahaman terhadap realitas literasi pemilih di lapangan.

Berdasarkan tinjauan data, struktur pendidikan Indonesia masih menunjukkan bentuk piramida yang lebar di bawah. Meski terdapat peningkatan tipis pada lulusan pendidikan tinggi (Diploma-S3) dari 6,82% di akhir 2024 menjadi 11% pada 2025, mayoritas penduduk usia 15 tahun ke atas masih didominasi oleh lulusan SMA/SMK (31,25%), SD (23,9%), dan SMP (22,48%), sumber (Data BPS Tahun 2024, 2025).

“Kita melihat ada pertumbuhan positif, namun kenyataannya Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas per 2025 baru mencapai 9,07 tahun. Ini artinya, secara kolektif kapasitas pendidikan kita masih setara lulusan SMP. Kondisi ini menuntut pendekatan politik yang jauh lebih edukatif dan sederhana,” ujar Ridwan Hisjam, Senin (06/04/2026).

Ir. Ridwan Hisjam juga menaruh perhatian serius pada ketimpangan akses yang tajam. Data 2025 menunjukkan persentase penduduk kota yang tamat perguruan tinggi mencapai 14,33%, dua kali lipat lebih tinggi dibanding wilayah perdesaan yang hanya 6,03%. Selain itu, potret pendidikan kaum disabilitas (73,77% lulusan SD ke bawah) dan lansia (34,13% lulusan SD) menjadi perhatian khusus beliau.

“Demokrasi kita tidak boleh meninggalkan siapa pun. Kesenjangan antara desa dan kota, serta rendahnya akses bagi penyandang disabilitas, menciptakan kerentanan terhadap polarisasi. Masyarakat dengan literasi terbatas lebih mudah menjadi sasaran narasi emosional ketimbang adu gagasan yang rasional,” tegasnya

Dalam pemikiran strategisnya, Ridwan Hisjam membagi pendekatan komunikasi politik menjadi dua pilar utama berdasarkan tingkat pendidikan:

Pendekatan Rasional & Digital (Pendidikan Tinggi): Menggunakan media sosial dan diskusi berbasis data untuk kelompok yang cenderung kritis dan partisipatif.

Pendekatan Tatap Muka & Edukatif (Pendidikan Dasar/Menengah): Mengingat 34,75% pekerja Indonesia adalah lulusan SD ke bawah, diperlukan narasi yang sederhana, fokus pada dampak langsung, dan melibatkan tokoh masyarakat (local influencers) untuk mencegah sikap apatis politik.

Ridwan Hisjam menekankan bahwa perbaikan kualitas demokrasi berjalan beriringan dengan pemerataan fasilitas dan kesiapan guru. Peningkatan RLS yang hanya sebesar 0,09 tahun dalam setahun terakhir menunjukkan perlunya akselerasi besar-besaran di sektor pendidikan.

“Politik yang sehat adalah politik yang memanusiakan manusia melalui edukasi. Jika kita ingin meminimalisir konflik sosial, maka kita harus memastikan setiap pesan politik tersampaikan dengan cara yang tepat sesuai kapasitas pendidikan pemilihnya,” pungkas Ridwan Hisjam.

Ir. H. M. Ridwan Hisjam adalah tokoh senior dan politisi Indonesia yang aktif dalam memperjuangkan kebijakan berbasis teknologi, pendidikan, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Beliau dikenal konsisten dalam mendorong transformasi demokrasi yang substansial di Indonesia. Ridwan Hisjam, atau yang akrab disapa Bung RH, merupakan salah satu figur penting dalam dunia politik Indonesia. Lebih dari tiga dekade, politisi senior Partai Golkar ini konsisten berkiprah di panggung nasional, menjadi saksi sekaligus pelaku dalam perjalanan panjang politik Indonesia—mulai dari era Orde Baru, masa reformasi, hingga dinamika politik modern pasca-pemilu langsung, dan juga RH pernah menjabat sebagai pimpinan Komisi X Pendidikan DPR RI 2014-2017, serta Ketua Dewan Penasehat IKA-ITS 2024-2028. (Tim/Red)

Oleh : Koningh Anwar & Alimurtazha