Subulussalam | infonewsnusantara.com. Dampak bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah tidak hanya dirasakan oleh warga di daerah asal, tetapi juga oleh mahasiswa asal Kota Subulussalam yang tengah menempuh pendidikan di luar daerah. Informasi ini dihimpun berdasarkan laporan yang masuk melalui Grup WhatsApp Pusdalops BPBD Kota Subulussalam, Rabu (18/12).
Pemerintah melalui camat dan aparatur desa se-Kota Subulussalam diminta untuk segera melaporkan warganya yang berstatus mahasiswa dan terdampak bencana, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti mengalami kerugian materi, gangguan kesehatan, hingga harus menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Camat Longkip, Al Haris, sempat mempertanyakan klasifikasi dampak bencana yang dimaksud. Setelah mendapatkan penjelasan, ditegaskan bahwa pendataan difokuskan pada mahasiswa asal Subulussalam yang berada di luar daerah dan terdampak langsung banjir atau bencana lainnya, seperti yang terjadi di Banda Aceh, Medan, Lhokseumawe, hingga Aceh Selatan.
Berdasarkan hasil sementara pendataan yang dihimpun melalui grup tersebut, tercatat puluhan mahasiswa asal berbagai kecamatan di Kota Subulussalam yang tengah menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Politeknik Aceh, Universitas Abulyatama, Universitas Bina Bangsa Getsempena, serta perguruan tinggi di Medan.
Para mahasiswa tersebut berasal dari Kecamatan Runding, Penanggalan, Simpang Kiri, serta desa-desa seperti Siperkas, Namo Buaya, Kampung Baru, dan Kuta Beringin. Sejumlah orang tua mahasiswa turut menyampaikan laporan kondisi anak mereka melalui aparatur desa masing-masing.
Pendataan ini menjadi langkah awal Pemerintah Kota Subulussalam untuk memastikan kondisi mahasiswa serta membuka peluang penyaluran bantuan dan dukungan lanjutan bagi mereka yang terdampak bencana.
Pemerintah Kota Subulussalam menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan situasi serta mengajak seluruh aparatur desa agar aktif menyampaikan informasi, sehingga tidak ada warga, khususnya mahasiswa, yang terlewat dari perhatian.
“Mahasiswa adalah aset daerah. Di tengah musibah, mereka tidak boleh merasa sendiri,” ujar salah satu aparatur kecamatan.
Redaksi: Syahbudin Padank
