Padi di Sawah dan Cerminan Manusia

Oleh : Redaksi INN

INN.com — Hamparan sawah sering dianggap sebagai pemandangan yang menenangkan mata. Di balik kehijauan batangnya dan keemasan bulirnya ketika memasuki masa panen, ada pelajaran hidup yang begitu dalam bila kita ingin memahaminya. Padi, tanaman sederhana yang menjadi makanan pokok bangsa ini, nyatanya memuat filosofi yang relevan dan abadi. Ia tidak hanya tumbuh untuk dipanen, tetapi juga tumbuh sebagai cermin bagi perilaku manusia. Karena itulah sering terdengar ungkapan: “Semakin berisi, semakin merunduk.” Namun di sawah juga ada padi yang tampak meninggi, tegak tanpa tunduk. Ketika disentuh, ternyata bulirnya kosong.

Dua karakter padi ini, dalam banyak hal, mencerminkan dua karakter manusia dalam kehidupan sosial kita. Ada manusia yang seperti padi berisi. rendah hati meski memiliki banyak kelebihan. Namun ada pula manusia yang seperti padi kosong, meninggi bukan karena kualitas, melainkan karena kekosongannya.

Padi yang penuh cenderung menunduk. Bukan karena ia lemah, bukan pula karena angin memaksanya tunduk, melainkan karena isi yang dikandungnya membuatnya tidak perlu menunjukkan diri. Begitu pula manusia yang berilmu dan berpengalaman. Semakin banyak wawasan yang ia miliki, semakin santun cara ia berbicara. Semakin matang pikirannya, semakin tenang perilakunya. Ia tidak merasa perlu menonjolkan kemampuan yang ia miliki, sebab kualitasnya akan tampak dari tindakan.

Manusia yang berisi tidak pernah takut dianggap tidak terlihat. Ia mengerti bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh seberapa keras ia bersuara, tetapi oleh dampak baik yang ia berikan. Ia tidak menjelekkan orang lain untuk meninggikan dirinya. Ia tidak memelintir fakta demi perhatian. Ia tidak sibuk mencari sorotan. Justru dalam keheningan, ia membangun karya dan manfaat, seperti padi yang diam namun menguatkan kehidupan.

Di banyak desa, kita melihat orang-orang yang hidup sederhana, tapi tutur katanya menyejukkan dan perbuatannya menguatkan. Mereka tidak pernah menolak dimintai pendapat, namun tidak pernah pula memaksa pendapatnya untuk diterima. Mereka tahu kapan harus bicara, kapan harus diam. Mereka berisi, dan karena itu mereka menunduk.

Di sisi lain, ada padi yang berdiri tegak, tampak kokoh, bahkan lebih tinggi dari yang lain. Namun bagi petani, padi yang terlalu tegak justru dicurigai. Sebab sering kali itu pertanda bahwa bulirnya kosong dan tidak layak panen. Tingginya bukan karena kualitas, tetapi karena ketiadaan beban.

Fenomena ini terjadi pula dalam kehidupan manusia. Ada orang-orang yang ingin selalu tampak paling menonjol. Suaranya paling keras, sikapnya paling mencolok, dan opininya seakan harus selalu didengar. Namun ketika diuji melalui tindakan, integritas, atau substansi pemikirannya, ia mudah goyah. Sebagaimana padi kosong yang mudah diterbangkan angin, manusia seperti ini mudah terseret opini, mudah tersinggung, dan mudah menyalahkan orang lain ketika keadaan tidak sesuai harapan.

Sering kita temui orang yang sibuk membangun citra, mengangkat dirinya setinggi mungkin, tetapi tidak memiliki kontribusi nyata. Ia mungkin tampak tinggi dalam percakapan, namun rendah dalam tindakan. Ia tampak hebat dalam kata-kata, tetapi kosong dalam kerja. Dalam ruang-ruang publik, di media sosial, bahkan di lingkungan pemerintahan dan lembaga masyarakat, fenomena ini bukan hal baru.

Masyarakat yang Mudah Keliru Menilai
Masalahnya, banyak dari kita mudah terkecoh oleh tampilan luar. Kita sering menilai bahwa yang berbicara paling keras adalah yang paling benar. Kita menganggap mereka yang bersikap tegas, meski kadang kasar, sebagai mereka yang paling berwibawa. Padahal, sama seperti di sawah, tinggi bukanlah tanda kematangan.

Manusia yang rendah hati sering kali salah dimaknai sebagai lemah. Padahal mereka tidak membentak bukan karena takut, tetapi karena tahu bahwa amarah tidak menyelesaikan masalah. Mereka tidak menuntut pengakuan bukan karena tidak mampu, tetapi karena mereka percaya bahwa karya adalah bukti terbaik. Dalam hiruk-pikuk dunia modern yang penuh pencitraan, nilai rendah hati justru semakin langka.

Jika padi yang kosong akhirnya terbuang, padi yang merunduk justru dipanen dan membawa manfaat bagi banyak orang. Filosofi ini seharusnya menjadi pegangan di tengah kehidupan yang semakin kompetitif. Kita tidak harus meninggi untuk dianggap ada. Kita tidak harus bersuara keras untuk menunjukkan kualitas. Yang kita butuhkan adalah isi, ilmu, etika, pengalaman, dan keikhlasan.

Menunduk bukan berarti merendahkan diri. Menunduk adalah tanda kedewasaan, sekaligus simbol kemenangan batin. Sebab pada akhirnya, manusia dinilai bukan dari seberapa tinggi ia berdiri, tetapi dari seberapa dalam jejak baik yang ia tinggalkan.

Dari sawah, kita belajar bahwa kehidupan yang agung justru tumbuh dari sikap yang bersahaja. Dan dari padi, kita belajar bahwa kemuliaan bukan terletak pada ketinggian, melainkan pada isi yang membuat kita layak ‘dipanen’ sebagai manusia yang berguna.