Opini: Ketika BI Checking Jadi Tembok bagi Usaha Kecil

Oleh : Wen Uken

INN.com – Ironi kembali terjadi di negeri ini. Bantuan pemerintah yang seharusnya menjadi penyelamat bagi masyarakat kecil dan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru terbentur di pintu perbankan. Alasannya klasik: gagal lolos BI Checking.

Sungguh aneh. Mereka yang pernah menunggak karena usahanya rugi dan modalnya kecil justru dianggap tidak layak menerima bantuan. Padahal, itulah kelompok yang paling membutuhkan pertolongan. Apakah negara kini hanya berpihak pada mereka yang sudah kuat dan mapan?

Masalahnya sederhana namun menyakitkan. Banyak pelaku UMKM menunggak bukan karena malas, melainkan karena bertahan di tengah badai ekonomi dengan modal pas-pasan. Ketika omset anjlok dan biaya produksi naik, mereka terpaksa memilih antara membayar cicilan atau memberi makan keluarga. Tetapi sistem tak mengenal empati, data di layar komputer lebih berkuasa daripada cerita di balik keringat rakyat kecil.

Yang lebih menggelikan, justru para pengusaha besar yang sudah menunggak miliaran rupiah tetap ditawari restrukturisasi dan pinjaman baru. Dalihnya pun macam-macam: demi menyelamatkan lapangan kerja, menjaga stabilitas industri, atau mendukung investasi nasional.

Lalu, di mana keadilan bagi pelaku usaha kecil yang nyaris tak punya daya tawar?
Apakah mereka bukan pencipta lapangan kerja? Bukankah UMKM justru penyumbang terbesar bagi perekonomian nasional?

Sudah saatnya pemerintah dan lembaga keuangan membedakan antara gagal bayar karena kesengajaan dan karena keterbatasan. BI Checking semestinya tidak menjadi vonis mati bagi rakyat kecil, tetapi dijadikan alat untuk menilai risiko dengan hati nurani, bukan hanya dengan angka.

Jika sistem terus berjalan seperti ini, maka yang kaya akan terus diberi karpet merah, dan yang miskin akan terus terjebak dalam lingkaran ketidakmampuan. Bantuan yang seharusnya menjadi penyelamat malah berubah menjadi harapan semu.

Negara harus hadir dengan kebijakan yang manusiawi, bukan sekadar administratif. Karena keadilan sosial tidak lahir dari tabel data, melainkan dari keberpihakan nyata terhadap mereka yang berjuang dari bawah