Berita  

Melalui PalmCo, Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Literasi Sawit Berkelanjutan bagi Mahasiswa IPB

Jakarta – PTPN IV PalmCo, subholding dari Holding Perkebunan Nusantara menerima kunjungan lapangan mahasiswa Magister Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor dalam rangka mempelajari secara langsung praktik tata kelola kelapa sawit berkelanjutan di kebun dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) perusahaan.

Kegiatan field trip yang diinisiasi oleh civitas akademika bersama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ini memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk melihat secara langsung operasional industri kelapa sawit yang selama ini banyak dipelajari melalui literatur akademik.

Industri kelapa sawit selama ini kerap menjadi sorotan dalam diskursus global, mulai dari isu lingkungan hingga tata kelola industri. Melalui kunjungan ini, para mahasiswa memperoleh gambaran komprehensif mengenai implementasi praktik keberlanjutan di lapangan, mulai dari kegiatan panen di kebun hingga proses pengolahan di pabrik.

Novita, mahasiswi program magister IPB asal Papua, mengakui bahwa pengalaman tersebut memberikan perspektif baru terkait praktik pengelolaan sawit yang sesuai standar internasional.

“Selama ini kami tahu teorinya, tapi ini kali pertama saya melihat langsung bagaimana RSPO bekerja di lapangan. Melihat cara panen yang benar, pembagian batas area kebun yang sangat jelas, hingga sistem manajemen pekerja yang tertata, ini benar-benar menjadi ilmu baru. PTPN bekerja secara sistematis dan mengemban tanggung jawabnya di lapangan,” ungkap Novita.

Hal senada disampaikan Fadil, mahasiswa lainnya yang menilai pengalaman langsung di lapangan memberikan pemahaman lebih utuh mengenai rantai pasok industri kelapa sawit.

“Sebagai mahasiswa, pengenalan terkait bisnis serta operasional sawit itu masih sangat terbatas. Melihat manajemen sawit secara riil dari hulu di kebun hingga ke hilir di pabrik membuktikan satu hal ketika dikelola dengan tata langkah yang baik dan berkelanjutan, sawit memiliki dampak ekonomi yang sangat positif dan terukur,” ujarnya.

Mengukur Efisiensi dan Daya Tarik Industri

Selain mempelajari tata kelola kebun, para mahasiswa juga melakukan observasi terhadap proses pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) di pabrik. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa melihat secara langsung bagaimana TBS diolah menjadi Crude Palm Oil (CPO) berkualitas dalam waktu sekitar empat jam dengan pengelolaan limbah yang terintegrasi.

Transparansi proses dan keteraturan operasional ini memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana prinsip keberlanjutan diterapkan secara nyata dalam kegiatan industri.

Pengalaman tersebut bahkan menumbuhkan ketertarikan sejumlah mahasiswa terhadap industri kelapa sawit sebagai ruang berkarya bagi talenta muda, terutama dalam sektor yang mengedepankan praktik bisnis berkelanjutan.

Validasi Standar Global

Kehadiran perwakilan RSPO dalam kegiatan observasi tersebut turut memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai implementasi standar keberlanjutan internasional di sektor perkebunan kelapa sawit.

Aryo Gustomo menyampaikan bahwa PTPN IV merupakan salah satu perusahaan yang konsisten menerapkan praktik sawit berkelanjutan.

“Bagus sekali (mahasiswa) dapat melihat langsung praktek-praktek systajnability di PTPN. Karena PTPN IV merupakan member RSPO yang sangat baik dengan 69 unit Pabrik tersertifikasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Farah Damia Mohd Zainal menilai kunjungan lapangan memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan pembelajaran teoritis di ruang kelas.

“Kunjungan ini memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana PTPN menjalankan certification journey RSPO di lapangan. Memahami proses ini secara on-ground dan mendalam memberikan dampak pemahaman yang jauh lebih besar dibandingkan apa yang hanya dilihat secara teori di buku,” ujarnya.

Dari perspektif akademik, Herdhata Agusta menegaskan bahwa penerapan standar internasional merupakan langkah penting dalam memperkuat kredibilitas industri sawit Indonesia di tingkat global.

“Kampanye di luar negeri selalu kuat dan negatif. Dulu ada narasi bahwa sawit rakus air, prosesnya tidak standar, dan sebagainya,” jelasnya.

“Namun dengan sertifikasi RSPO yang sifatnya internasional ini, semua proses menjadi berstandar baku, tersertifikasi, dan diawasi ketat. Kriteria keberlanjutan yang dipenuhi secara disiplin di lapangan ini akan menjadi daya ungkit yang sangat membantu untuk mengangkat kembali citra sawit Indonesia di mata dunia.”

Melalui kegiatan ini, Holding Perkebunan Nusantara berharap kolaborasi antara dunia akademik dan industri dapat terus diperkuat untuk meningkatkan literasi publik mengenai praktik kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia.

Observasi langsung di kebun dan pabrik menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman berbasis fakta, sehingga generasi muda memiliki perspektif yang lebih komprehensif mengenai tata kelola industri kelapa sawit nasional yang terus bertransformasi menuju praktik yang lebih berkelanjutan.