Lhokseumawe| infonewsnusantara.com. Kritik tajam datang dari kalangan mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal). Haikal, seorang mahasiswa Unimal, menyuarakan kegelisahannya terhadap perubahan arah gerakan mahasiswa yang dinilainya kian menjauh dari peran historis sebagai agen perubahan sosial.
Dalam pernyataannya yang beredar luas di media sosial, Haikal menyoroti pergeseran orientasi mahasiswa masa kini. Ia membandingkan situasi saat dirinya masih menjadi siswa, ketika mahasiswa dikenal aktif turun ke jalan memperjuangkan kepentingan rakyat dan membela kebenaran, dengan kondisi sekarang yang dinilainya lebih pragmatis.
“Mahasiswa hari ini sibuk mengejar sertifikat, IPK sempurna, dan dokumentasi kegiatan untuk portofolio. Seolah kampus hanya mencetak mesin pencari kerja, bukan manusia kritis,” tulis Haikal.
Menurutnya, perubahan ini tidak bisa dilihat semata sebagai kesalahan individu mahasiswa. Ia menilai sistem pendidikan kampus turut berkontribusi membentuk iklim kompetitif yang menekan mahasiswa untuk fokus pada prestasi akademik dan kesiapan kerja, hingga melupakan tanggung jawab sosial.
Haikal menegaskan bahwa berpikir kritis dan peka terhadap persoalan masyarakat bukanlah mata kuliah pilihan, melainkan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai kaum terdidik. “Ini bukan soal anti kerja atau menolak masa depan, tapi soal moralitas sosial dan keberpihakan mahasiswa kepada masyarakat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut memantik diskusi luas di kalangan mahasiswa dan akademisi. Sebagian mendukung kritik Haikal sebagai refleksi penting bagi dunia kampus, sementara lainnya menilai tantangan ekonomi dan dunia kerja juga menjadi realitas yang tak bisa dihindari mahasiswa saat ini.
Meski menuai pro dan kontra, suara Haikal dianggap mewakili kegelisahan banyak mahasiswa yang merindukan kembalinya peran kampus sebagai ruang lahirnya pemikiran kritis dan gerakan sosial, bukan sekadar pabrik pencetak ijazah dan sertifikat.Red,
