Infonewsnusantara.com — “Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik.” Kalimat yang disampaikan oleh Hoegeng Imam Santoso itu terasa sederhana, namun daya gugahnya melampaui zaman. Di tengah budaya yang kian memuja jabatan, popularitas, dan pengaruh, pesan tersebut justru tampil sebagai pengingat keras bahwa ukuran tertinggi manusia bukanlah posisi, melainkan karakter.
Hari ini, menjadi “orang penting” sering dipahami sebagai capaian utama. Jabatan tinggi, akses luas, kedekatan dengan pusat kekuasaan, serta sorotan publik dianggap sebagai puncak keberhasilan. Banyak orang berlomba mencapainya dengan segala cara membangun citra, memperluas jaringan, bahkan tak jarang mengorbankan prinsip. Dalam logika ini, terlihat penting menjadi lebih utama daripada menjadi benar.
Padahal, kepentingan tanpa kebaikan hanya akan melahirkan kekuasaan yang rapuh.
Menjadi orang baik tidak selalu identik dengan panggung besar. Ia sering hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang konsisten: menolak penyimpangan, menjaga kejujuran, tidak memanfaatkan celah, serta berani bersikap lurus ketika ada kesempatan untuk berbelok. Kebaikan bekerja tanpa banyak tepuk tangan, tetapi dampaknya terasa lama. Ia membangun kepercayaan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh jabatan.
Problem terbesar dalam kehidupan publik kita bukan semata kekurangan orang cerdas, melainkan kelangkaan keteladanan. Banyak yang pandai berbicara tentang integritas, namun goyah dalam praktik. Banyak yang fasih mengutip etika, tetapi lentur ketika berhadapan dengan kepentingan. Di sinilah relevansi pesan moral Hoegeng menemukan momentumnya kembali.
Era digital memperparah paradoks ini.
Pencitraan dapat diproduksi massal, reputasi bisa direkayasa, dan kepedulian dapat dipentaskan. Seseorang bisa tampak bersih di layar, namun berbeda dalam kenyataan. Publik disuguhi narasi, bukan rekam jejak. Yang terlihat sering kali mengalahkan yang sebenarnya.
Namun sejarah memiliki cara seleksinya sendiri. Ia tidak lama terpesona oleh pencitraan. Ia mencatat konsistensi. Nama-nama yang bertahan dalam ingatan kolektif biasanya bukan yang paling berkuasa, melainkan yang paling teguh memegang prinsip.
Menjadi orang penting memberi pengaruh saat menjabat. Menjadi orang baik memberi pengaruh bahkan setelah tidak menjabat. Yang pertama menghasilkan kekuasaan. Yang kedua menghasilkan kepercayaan. Dan dalam jangka panjang, kepercayaan selalu lebih mahal daripada kekuasaan.
Opini ini bukan ajakan untuk menolak posisi atau meremehkan peran penting dalam struktur sosial. Jabatan tetap perlu, kepemimpinan tetap dibutuhkan. Namun fondasinya tidak boleh terbalik. Kepentingan harus berdiri di atas kebaikan, bukan menggantikannya. Kekuasaan harus ditopang integritas, bukan sekadar ambisi.
Pada akhirnya, pertanyaan paling jujur untuk setiap orang bukanlah “seberapa tinggi posisi kita”, tetapi “seberapa bersih cara kita sampai ke sana.” Karena ketika jabatan selesai dan sorotan padam, yang tersisa hanyalah satu hal: apakah kita dikenal sebagai orang penting atau orang baik.
