Jurnalis Tak Pernah Pensiun

Oleh: Chaidir Toweren

Infonewsnusantara.com – Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman yang kian cepat, ada satu profesi yang sejatinya tidak pernah mengenal kata pensiun: jurnalis. Secara administratif, mungkin ada batas usia. Secara struktural, mungkin ada masa jabatan. Namun dalam hakikatnya, menjadi jurnalis bukan sekadar pekerjaan yang berhenti ketika SK pensiun diterbitkan. Ia adalah panggilan nurani yang terus hidup selama akal masih jernih dan tangan masih sanggup menulis.

Jurnalisme bukan profesi yang berdiri di atas rutinitas belaka. Ia dibangun di atas kepekaan, keberanian, dan tanggung jawab moral terhadap publik. Seorang jurnalis dilatih untuk melihat apa yang luput dari perhatian banyak orang, menggali fakta di balik peristiwa, serta menyuarakan kepentingan masyarakat luas. Kepekaan semacam ini tidak otomatis hilang ketika usia bertambah. Justru pengalaman panjang sering kali membuat perspektif semakin matang dan tajam.

Dalam sejarah pers Indonesia, banyak sosok yang tetap aktif menulis hingga usia senja. Rosihan Anwar, misalnya, dikenal sebagai wartawan senior yang produktif hingga akhir hayatnya. Begitu pula Goenawan Mohamad, yang terus melahirkan esai-esai reflektif dengan kedalaman pemikiran yang tak lekang oleh waktu. Mereka menunjukkan bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan sikap hidup.

Mengapa jurnalis tidak pernah benar-benar pensiun? Karena jurnalisme melekat pada cara berpikir. Seorang jurnalis akan tetap kritis terhadap kebijakan publik, tetap gelisah melihat ketidakadilan, dan tetap terdorong mencari kebenaran di tengah kabut opini. Naluri itu tidak berhenti hanya karena usia bertambah.

Di era digital, batas usia semakin tidak relevan. Ruang redaksi kini tidak lagi dibatasi oleh gedung fisik. Dengan perangkat sederhana dan akses internet, siapa pun yang memiliki kapasitas dan integritas dapat tetap menulis dan menyampaikan gagasan. Banyak jurnalis yang secara formal telah pensiun dari perusahaan media, namun justru menemukan kebebasan baru untuk menulis opini, esai, atau analisis yang lebih mendalam tanpa tekanan komersial.

Pengalaman panjang menjadi modal besar yang tidak dimiliki semua orang. Jurnalis senior telah melewati berbagai fase sejarah: pergantian rezim, dinamika politik, krisis ekonomi, hingga transformasi teknologi. Mereka tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga memahami konteksnya. Di sinilah nilai lebih itu berada. Perspektif yang lahir dari pengalaman panjang sering kali lebih jernih dan komprehensif dibanding sekadar kecepatan menyajikan berita.

Tentu saja, generasi muda memiliki keunggulan tersendiri, energi, inovasi, dan penguasaan teknologi. Namun jurnalisme bukan soal cepat semata. Ia juga soal akurasi, etika, dan tanggung jawab. Kolaborasi lintas generasi menjadi kekuatan yang ideal. Jurnalis muda membawa semangat dan kreativitas, sementara jurnalis senior menghadirkan kebijaksanaan dan kedalaman analisis. Keduanya tidak saling menggantikan, melainkan saling melengkapi.

Dalam konteks demokrasi, keberadaan jurnalis yang terus aktif tanpa memandang usia merupakan aset penting. Demokrasi membutuhkan suara yang independen dan berani. Di tengah maraknya disinformasi, hoaks, dan polarisasi opini, pengalaman dan integritas menjadi benteng yang tak ternilai. Jurnalis yang telah lama berkecimpung dalam dunia pers memahami betul arti verifikasi, keseimbangan, dan etika pemberitaan.

Menjadi jurnalis juga berarti membangun identitas. Banyak wartawan yang ketika ditanya siapa dirinya, tetap menjawab dengan bangga: “Saya jurnalis,” meski sudah tak lagi terikat institusi media tertentu. Identitas itu melekat dalam cara memandang realitas sosial. Ia menjadi bagian dari kepribadian, bukan sekadar status pekerjaan.

Memang, secara fisik manusia memiliki batas. Energi mungkin tak lagi sekuat masa muda. Namun jurnalisme tidak selalu identik dengan kerja lapangan yang melelahkan. Menulis opini, analisis, atau refleksi membutuhkan ketenangan dan kedalaman berpikir sesuatu yang justru semakin matang seiring bertambahnya usia.

Selama masih ada ketidakadilan yang perlu disuarakan, selama masih ada kebijakan yang perlu dikritisi, dan selama masih ada fakta yang perlu diluruskan, maka peran jurnalis tetap dibutuhkan. Pena atau kini papan ketik, menjadi alat perjuangan yang tidak mengenal batas usia.

Pada akhirnya, jurnalisme adalah tentang komitmen pada kebenaran. Ia bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian. Seseorang boleh saja pensiun dari jabatan, tetapi tidak dari nurani. Selama masih mampu menulis dan berkarya, selama idealisme itu belum padam, maka seorang jurnalis sejati tak pernah benar-benar pensiun.
Karena jurnalisme bukan tentang usia. Ia tentang keberanian untuk terus bersuara.