INN.com — Ada satu pelajaran hidup yang sering datang terlambat dipahami banyak orang: ketika kita tidak punya apa-apa, tidak punya kuasa, tidak punya harta, tidak punya jabatan, maka hampir tidak ada seorang pun yang benar-benar mencarimu. Telepon sepi, pesan tak berbalas, nama kita hilang dari percakapan. Bukan karena dunia kejam semata, tetapi karena begitulah realitas sosial bekerja.
Kita hidup di tengah masyarakat yang kerap menilai manusia dari apa yang ia miliki, bukan dari siapa dirinya. Saat kita berada di atas, banyak tangan terulur, banyak senyum tersaji, dan banyak pujian bertebaran. Namun ketika kita jatuh, saat kekuatan dan sumber daya tak lagi kita punya, satu per satu orang pergi tanpa pamit. Di titik inilah nasihat sederhana menjadi relevan: fokuslah pada dirimu sendiri.
Fokus pada diri sendiri bukan berarti menjadi egois atau memutus hubungan sosial. Ia adalah sikap sadar bahwa sandaran utama hidup bukanlah manusia lain, melainkan kemampuan kita untuk bertahan, belajar, dan bangkit. Terlalu sering kita menggantungkan harapan pada orang lain, pada relasi, jabatan, atau popularitas, seolah semua itu akan selalu ada. Padahal, semuanya rapuh dan sementara.
Ketika seseorang berada dalam kondisi sulit, barulah ia menyadari betapa tipisnya lapisan solidaritas sosial yang selama ini ia kira kokoh. Banyak yang mengaku teman, tetapi sedikit yang benar-benar hadir saat dibutuhkan. Bukan karena mereka jahat, melainkan karena kepentingan telah berubah. Dunia bergerak cepat, dan empati sering kalah oleh urusan masing-masing.
Karena itu, membangun diri menjadi kebutuhan mendesak. Menguatkan mental, memperdalam kemampuan, dan menata ulang tujuan hidup jauh lebih penting daripada mengejar pengakuan. Saat kita fokus pada diri sendiri, kita sedang menabung ketahanan. Kita belajar berdiri tanpa tepuk tangan, berjalan tanpa sorak sorai, dan tetap waras meski tidak dianggap.
Di masyarakat kita, sering kali ukuran keberhasilan disempitkan pada simbol-simbol lahiriah: jabatan, kekayaan, akses kekuasaan. Mereka yang tak memiliki itu kerap dianggap tidak penting. Namun sejarah berkali-kali membuktikan bahwa perubahan besar justru lahir dari orang-orang yang pernah diabaikan. Mereka yang ditempa kesunyian biasanya memiliki daya tahan lebih kuat daripada mereka yang selalu dikelilingi pujian.
Fokus pada diri sendiri juga berarti berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua orang akan peduli. Dan itu tidak apa-apa. Kita tidak hidup untuk menyenangkan semua orang. Kita hidup untuk bertumbuh, memberi makna, dan bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Ketika kita berhenti mengejar validasi, kita justru menemukan kebebasan.
Ironisnya, saat seseorang telah kuat secara pribadi, tidak bergantung, tidak mengiba, tidak rapuh, di situlah orang mulai melirik kembali. Bukan karena belas kasihan, tetapi karena respek. Dunia menghormati mereka yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Namun, jika pun itu tidak terjadi, kita tidak lagi terguncang, karena fokus kita bukan lagi pada siapa yang datang, melainkan pada siapa diri kita sebenarnya.
Maka, jika hari ini engkau merasa sendiri, merasa tak dicari, merasa tak dianggap, jangan tergesa-gesa menyalahkan dunia. Jadikan itu cermin. Perkuat dirimu. Bangun kemampuanmu. Tata ulang arah hidupmu. Karena pada akhirnya, satu-satunya yang benar-benar akan bersamamu dari awal hingga akhir adalah dirimu sendiri.
Fokuslah pada dirimu sendiri. Sebab ketika kau tak punya apa-apa, di sanalah kau belajar menjadi segalanya bagi dirimu sendiri. Dan dari situlah, kekuatan sejati lahir.
