Berita  

Dua Bulan Pascabanjir, Warga Aceh Tamiang Keluhkan Lambatnya Pemulihan

Aceh Tamiang | INN.com – Lebih dari dua bulan setelah banjir besar melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 2025, sejumlah warga terdampak di Desa Kota Lintang, Kecamatan Kuala Simpang, mengeluhkan lambatnya proses pemulihan. Memasuki bulan suci Ramadhan, banyak rumah warga masih belum layak huni, lumpur sisa banjir belum terangkut, dan bantuan dinilai belum mencukupi kebutuhan dasar.

Organisasi masyarakat Tameng Perjuangan Rakyat Anti Korupsi (TAMPERAK) Aceh Tamiang turut menyoroti kondisi tersebut. Ketua TAMPERAK, Purnawirawan TNI Zulsyafri, menyampaikan pihaknya menerima laporan dari warga yang mengaku hingga kini masih diminta membersihkan rumah secara mandiri, meskipun lumpur di dalam rumah telah mengeras dengan ketebalan mencapai lebih dari satu meter dan menutup akses jalan lingkungan.

“Warga sangat kesulitan. Lumpur sudah mengeras dan membutuhkan alat berat untuk membersihkannya. Sementara sumber mata pencaharian mereka juga hilang akibat banjir,” ujar Zulsyafri.

Saiful, warga Desa Landuk, mengatakan kondisi ekonomi menjadi kendala utama untuk memperbaiki rumah. Tempat usaha yang menjadi sumber penghidupan keluarga hanyut terbawa banjir.

“Kami diminta membersihkan rumah sendiri, sementara untuk mendapatkan penghasilan sangat sulit karena usaha sudah hilang,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Khatijah dan Susilawati, warga lainnya. Mereka mengaku selama lebih dari dua bulan pascabanjir hanya menerima bantuan beras dan mi instan dalam jumlah terbatas.

“Kami berharap rumah bisa segera diperbaiki di lokasi semula dan dana korban banjir disalurkan tanpa dipersulit. Kami masih trauma,” ujar mereka.

Warga juga menegaskan tidak membutuhkan hunian sementara (huntara) di lokasi lain. Mereka lebih memilih perbaikan rumah di tempat tinggal masing-masing agar dapat kembali menjalani aktivitas seperti semula.
Sementara itu, Datok Desa Kota Lintang,

Fadil, membenarkan masih banyak warganya belum mampu membersihkan rumah akibat ketebalan lumpur. Ia menyebut pemerintah desa juga mengalami keterbatasan alat berat untuk membersihkan jalan lingkungan.

“Kami membutuhkan ekskavator kecil dan mobil dump truck untuk mengangkut lumpur. Selain itu, warga juga memerlukan sumur bor atau fasilitas air bersih seperti RO untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Fadil.

Menurutnya, jika akses jalan dapat segera dibersihkan, warga yang rumahnya tidak rusak parah bisa kembali menempati rumah selama Ramadhan dan mulai memulihkan ekonomi secara bertahap.
Fadil juga berharap adanya tambahan bantuan bahan pangan menjelang Ramadhan karena persediaan kebutuhan pokok warga semakin menipis.

Hingga berita ini diturunkan, warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dan percepatan penanganan agar pemulihan pascabanjir tidak berlarut-larut. (Zs)