Opini — Oleh Redaksi Infonewsnusantara
INN.com — Entah apa yang sedang terjadi di negeri Konoha sebuah negeri yang konon katanya menjunjung tinggi etika, dedikasi, dan pelayanan publik. Namun belakangan ini, kabar beredar bahwa demi mengejar rekor MURI, segala cara dilakukan. Bahkan, tekanan terhadap bawahan menjadi hal lumrah, seolah capaian simbolik lebih penting daripada esensi kerja dan nurani.
Lucunya, ketika hal ini dipertanyakan, jawabannya justru terdengar seperti lelucon: “ASN diajak berinvestasi.”
Investasi? Pertanyaannya, investasi untuk siapa? Untuk kemajuan negeri atau demi gengsi segelintir orang yang ingin namanya tercatat di atas selembar sertifikat MURI yang penuh tinta kebanggaan semu?
Fenomena seperti ini bukan hanya menunjukkan krisis moral dalam birokrasi, tapi juga betapa mudahnya nilai-nilai pelayanan publik tergantikan oleh ambisi pribadi dan pencitraan instan. ASN, yang seharusnya menjadi penggerak roda pemerintahan, justru dijadikan alat pencapaian target seremonial.
Tekanan terhadap bawahan bukan lagi hal asing. Di beberapa tempat, ASN bahkan merasa “wajib berpartisipasi” tanpa pilihan, sebab jika menolak, mereka akan dicap tidak loyal atau tidak mendukung program pimpinan. Padahal, dalam teori manajemen modern, loyalitas itu lahir dari rasa dihargai, bukan rasa takut.
Jika MURI dijadikan tolok ukur keberhasilan, maka negeri ini sedang salah arah. Karena keberhasilan sejati bukan diukur dari jumlah rekor, tapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan rakyat.
Negeri Konoha kini seolah menjadi cermin negeri kita sendiri tempat di mana simbol lebih berharga daripada substansi, dan pencitraan lebih tinggi nilainya daripada pelayanan publik.
Aduch mak… negeri ku.
Entah sampai kapan rekor akan lebih diutamakan daripada rakyat yang sedang menunggu bukti nyata.
