Bener Meriah | INN.com — Musibah seakan enggan beranjak dari Tanah Gayo. Bener Meriah, salah satu kabupaten penghasil kopi terbaik di Indonesia, kembali diuji ketangguhannya. Setelah dilanda bencana hidrometeorologi pada 26 November 2025 lalu, kini masyarakat Bener Meriah dihadapkan pada ancaman baru yang tak kalah mengkhawatirkan: meningkatnya aktivitas gunung berapi hingga status Siaga Level III.
Pada akhir November 2025, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tengah Aceh. Dampaknya bukan hanya banjir dan longsor di kawasan permukiman, tetapi juga melumpuhkan akses vital antarwilayah. Sejumlah titik di jalan negara mengalami longsor parah, baik pada jalur dari Kabupaten Bireuen menuju Bener Meriah, maupun dari arah Simpang KKA Krueng Geukuh Lhokseumawe. Material tanah dan bebatuan menutup badan jalan, memutus jalur logistik dan mobilitas warga.
Akibatnya, Bener Meriah sempat terisolasi hampir tiga pekan lamanya. Tiga pekan bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah daerah yang roda ekonominya bergantung pada distribusi hasil pertanian, terutama kopi Arabika Gayo. Aktivitas perdagangan tersendat, harga kebutuhan pokok melonjak, dan masyarakat dipaksa bertahan dengan keterbatasan. Di tengah kondisi itu, kesabaran dan solidaritas warga menjadi benteng utama menghadapi situasi darurat.
Memasuki awal 2026, proses pemulihan mulai berjalan. Jalan darurat dan jembatan sementara dibangun untuk membuka kembali akses yang terputus. Alat berat terus bekerja menyingkirkan sisa longsoran, sementara masyarakat perlahan mencoba bangkit menata kembali kehidupan yang sempat porak-poranda. Namun, di saat harapan itu mulai tumbuh, kabar lain datang menghantam: aktivitas gunung api di wilayah Bener Meriah menunjukkan peningkatan signifikan.
Gunung api Gunung Burni Telong, yang selama ini menjadi bagian dari lanskap alam Tanah Gayo, kini memasuki status Siaga Level III. Status ini bukan sekadar istilah teknis, melainkan peringatan serius bahwa potensi erupsi semakin nyata. Aktivitas kegempaan meningkat, hembusan gas vulkanik terpantau lebih intens, dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
Bagi warga Bener Meriah, ancaman ini datang di saat yang paling tidak tepat. Mereka belum sepenuhnya pulih dari dampak longsor dan isolasi. Infrastruktur masih rapuh, jalur evakuasi belum sepenuhnya optimal, dan sebagian warga masih bergantung pada bantuan. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana kesiapan negara dalam melindungi rakyatnya di wilayah rawan bencana berlapis seperti Bener Meriah?
Bencana yang datang bertubi-tubi seharusnya menjadi cermin bagi semua pihak, khususnya pemerintah pusat dan daerah. Bener Meriah bukan daerah baru dalam peta kerawanan bencana. Secara geografis, wilayah ini berada di kawasan pegunungan, rawan longsor, serta memiliki gunung api aktif. Artinya, mitigasi bencana tidak boleh bersifat reaktif, melainkan harus direncanakan jauh hari dengan pendekatan komprehensif.
Status Siaga Level III gunung api menuntut langkah konkret, bukan sekadar imbauan. Pemerintah harus memastikan jalur evakuasi aman dan layak, tempat pengungsian tersedia dan memenuhi standar kemanusiaan, serta informasi kepada masyarakat disampaikan secara transparan dan berkelanjutan. Jangan sampai trauma akibat longsor belum sembuh, masyarakat kembali dicekam ketakutan tanpa kepastian.
Lebih dari itu, bencana di Bener Meriah juga menyingkap persoalan klasik penanganan pascabencana di negeri ini. Fokus sering kali hanya pada fase tanggap darurat, sementara fase pemulihan dan kesiapsiagaan jangka panjang kerap terabaikan. Padahal, bagi masyarakat di daerah rawan, kesiapsiagaan adalah kebutuhan sehari-hari, bukan program musiman.
Masyarakat Bener Meriah telah menunjukkan ketangguhan luar biasa. Mereka bertahan dalam isolasi, saling membantu di tengah keterbatasan, dan tetap menjaga harapan. Namun, ketangguhan rakyat tidak boleh dijadikan alasan pembenaran atas lambannya sistem. Negara hadir bukan hanya saat bencana terjadi, tetapi juga sebelum dan sesudahnya, memastikan risiko diminimalkan dan dampak tidak berulang.
Kini, ketika ancaman gunung api membayangi, semua pihak harus bersatu. Pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat sipil perlu bergerak dalam satu irama. Jangan menunggu hingga letusan benar-benar terjadi baru kemudian sibuk mencari solusi. Bener Meriah sudah terlalu sering diuji; sudah saatnya kebijakan penanggulangan bencana benar-benar berpihak pada keselamatan manusia, bukan sekadar laporan administrasi.
Bener Meriah adalah simbol ketahanan Tanah Gayo. Namun, ketahanan itu perlu ditopang dengan keseriusan negara. Karena bencana alam mungkin tak bisa dicegah, tetapi penderitaan akibat kelalaian manusia dan sistem yang lemah seharusnya tidak lagi terulang.
