Laporan Khusus: Realitas Bencana dan Konten Politik di Tanah Rencong
Aceh | infonewsnusantara.com. embali diguyur banjir dan longsor. Dari Bireuen, Gayo Lues, hingga Aceh Tengah, Aceh Singkil, dan Subulussalam, ribuan warga mengungsi, rumah terendam, jalan putus. Namun di tengah kepanikan itu, ada satu hal yang muncul lebih cepat daripada perahu evakuasi atau logistik: tim konten politik.
Di Aceh Singkil dan Subulussalam, warga mengaku fenomena ini semakin nyata. Begitu pejabat tiba, warga disuruh minggir. Alasannya? agar wajah sang pejabat terkena cahaya kemanusiaan seoptimal mungkin Lampunya tiga. Empatinya menurut warga setengah.
Bantuan yang datang pun kerap membuat warga garuk kepala. Truk bertuliskan “Dari Hati untuk Negeri” tiba di posko banjir, tapi isinya mie instan lebih sedikit dibanding stiker wajah sang elite.
“Kami cari mie instan yang dijanjikan, yang ada malah foto beliau lebih besar daripada kardusnya,” keluh warga Subulussalam.
Di lokasi longsor Aceh Tengah, Aceh Singkil, dan beberapa titik di Subulussalam, pejabat hadir dengan rompi baru, sepatu anti-air mengkilap, dan ekspresi prihatin yang nyaris seperti adegan sinetron. Warga sempat bertanya Pak, sepatu itu mau bantu kami atau ikut fashion show bencana?”
Sementara relawan berjalan menyusuri lumpur dan air, tim kreatif politisi sibuk mengatur adegan: turun dari mobil, memegang kardus bantuan, tatap kamera, lalu naik lagi karena takut basah.
Pernyataan “Kami hadir bersama masyarakat Aceh!” juga rutin terdengar.
Namun warga Aceh Singkil dan Subulussalam menilai kehadiran itu lebih terasa di feed Instagram daripada di posko pengungsian.
Momen paling ironis muncul saat warga berteriak minta selimut dan air bersih. Alih-alih menolong, seorang pejabat justru menegur kameramennya:
“Mas, ulang lagi. Angle-nya kurang dramatis.”
Bagi warga Aceh, terutama di Singkil dan Subulussalam, ini sudah menjadi pemandangan biasa: bencana datang mendadak, tapi jadwal syuting pencitraan sudah disiapkan jauh hari.
Akhirnya, bencana merusak rumah warga Aceh, Aceh Singkil, dan Subulussalam.
Namun pencitraan yang berlebihan, itu yang merusak kepercayaan.
Bencana menguji siapa yang benar-benar turun tangan.dan siapa yang cuma turun timeline
Pertanyaannya: Di Aceh hari ini terutama di Singkil dan Subulussalam bencana itu musibah…
atau panggung yang lampunya terlalu terang?
