“Kursi Itu Tak Pernah Abadi, Hari Ini Diduduki, Besok Bisa Ditinggalkan”

Teks Foto : Ilustrasi Kursi/InfoNewsNusantara.com

MEDAN | InfoNewsNusantara.com

Dalam dinamika kehidupan sosial, pemerintahan, hingga organisasi, satu hal yang tak pernah berubah adalah kenyataan bahwa jabatan bukanlah milik abadi. Kursi yang hari ini diduduki dengan penuh kebanggaan, esok bisa saja bergeser tanpa aba-aba, Sabtu (11/04/2026).

Fenomena ini bukan sekadar pepatah lama, melainkan realita yang terus berulang. Banyak yang terlena ketika berada dipuncak kekuasaan, merasa posisi yang dimiliki adalah hasil mutlak dari kemampuan pribadi semata. Padahal, di balik sebuah jabatan, ada faktor kepercayaan, situasi, dan bahkan takdir yang bekerja.

“Kursi itu panas, bukan tanpa alasan diucapkan. Ia sarat tanggung jawab, tekanan, dan ujian moral. Siapa yang tak mampu menjaga integritas, menjaga sikap, serta lupa diri, cepat atau lambat akan tergelincir dari tempatnya,” kata Agus Syahputra dalam keterangannya di Medan, Sabtu (11/04/2026).

Sejumlah pengamat sosial di Kota Medan menilai, sikap rendah hati menjadi kunci utama dalam mempertahankan kehormatan selama menjabat. Kesombongan justru menjadi awal dari kehancuran. Banyak contoh nyata, ketika seseorang yang dulunya dielu-elukan, akhirnya harus turun dengan cara yang tidak terhormat.

Lebih jauh, jabatan sejatinya adalah amanah, bukan hak milik. Ia dititipkan untuk dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan untuk dipamerkan apalagi disalahgunakan. Mereka yang memahami hal ini biasanya mampu meninggalkan jabatan dengan kepala tegak dan dikenang baik oleh masyarakat.

Sebaliknya, mereka yang menjadikan jabatan sebagai alat kesombongan, cenderung lupa bahwa waktu terus berjalan. Rotasi, pergantian, bahkan pencopotan bisa terjadi kapan saja. Tidak sedikit yang akhirnya kehilangan segalanya, bukan hanya kursi, tetapi juga kepercayaan dan nama baik.

Di tengah kondisi saat ini, pesan moral ini menjadi sangat relevan, khususnya bagi para pemegang kekuasaan, pejabat publik, hingga pimpinan organisasi. Kesadaran bahwa posisi hanyalah sementara diharapkan mampu menumbuhkan sikap bijak, adil, dan tidak arogan dalam menjalankan tugas.

Masyarakat pun kini semakin kritis. Mereka tidak lagi mudah terpesona oleh jabatan semata, melainkan menilai dari sikap, kinerja, dan ketulusan dalam melayani. Era keterbukaan membuat segala sesuatu mudah terlihat, termasuk kesalahan dan penyalahgunaan wewenang.

Pada akhirnya, jabatan hanyalah titipan waktu. Ia bisa datang dan pergi. Yang tersisa adalah jejak, apakah dikenang sebagai pemimpin yang bijak atau justru sebagai sosok yang sombong dan lupa diri.

Karena itu, sebelum kursi itu benar-benar bergeser, sudah sepatutnya setiap pemangku jabatan bercermin: apakah kehadirannya membawa manfaat, atau justru meninggalkan beban.

Ingat, kursi itu panas. Kapan saja bisa bergeser. Dan saat itu terjadi, hanya integritas yang akan tetap berdiri.(***)