Jakarta|INN.com
Arief Martha Rahadyan, menyampaikan apresiasi atas langkah strategis Kementerian Pertanian dalam mempercepat hilirisasi sektor pertanian melalui pengembangan biofuel dan bioetanol sebagai bagian dari upaya menuju kemandirian energi nasional.
Kebijakan yang mengintegrasikan sektor pertanian dengan energi terbarukan merupakan terobosan penting di tengah dinamika geopolitik global yang kian tidak menentu. Pemanfaatan bahan baku domestik seperti sawit untuk program B50, serta jagung, ubi kayu, dan tebu untuk pengembangan bioetanol E20, dinilai sebagai langkah konkret dalam memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya dalam negeri.
Langkah ini menjadi momentum penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian nasional. Ini adalah bentuk transformasi ekonomi yang berbasis pada kekuatan domestik,” ujar Arief
Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan energi berbasis pertanian, mengingat ketersediaan lahan serta kapasitas produksi komoditas yang melimpah. Dengan pengelolaan yang tepat, hilirisasi ini dapat menciptakan ekosistem industri baru yang berkelanjutan.
Sinergi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan petani menjadi kunci dalam memastikan implementasi kebijakan berjalan efektif dan tepat sasaran.Keberhasilan hilirisasi ini akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani. Mereka tidak lagi hanya sebagai produsen bahan mentah, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai industri yang lebih besar,” jelasnya.
Arief meminta pemerintah untuk terus memperkuat dukungan ini melalui kebijakan insentif, infrastruktur, serta akses pembiayaan yang memadai bagi para pelaku usaha di sektor ini. Dengan demikian, target kemandirian energi nasional dapat dicapai secara bertahap namun pasti.
Arief menilai bahwa arah pembangunan yang mengintegrasikan sektor pertanian dengan energi terbarukan merupakan langkah visioner yang perlu dijaga konsistensinya, demi mewujudkan Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing di tingkat global.
