Berita  

Di Huntara Aceh Tamiang, Andi F. Noya Menyapa Harapan yang Tumbuh di Tengah Bencana

Aceh Tamiang | INN.com — Deretan hunian sementara berdiri di Kebun Tanjung Sementoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Bangunan sederhana itu menjadi tempat tinggal ratusan warga yang kehilangan rumah akibat bencana. Di antara lorong-lorong sempit huntara, aktivitas anak-anak, relawan, dan warga berjalan pelan seperti upaya menata kembali kehidupan yang sempat runtuh.

Rabu siang (28/1/26), kawasan itu kedatangan Andi F. Noya. Jurnalis senior sekaligus Founder Benihbaik.com itu datang bersama Direktur PTPN IV PalmCo Jatmiko Krisna Santoso, Direktur PTPN IV Regional VI KSO Langsa Yudi Cahyadi, Wakil Bupati Aceh Tamiang Ismail, serta perwakilan Polres Aceh Tamiang yang diwakili Kepala Satuan Intelkam Polres Aceh Tamiang.

Huntara yang mereka kunjungi dibangun oleh Danantara, sebuah kolaborasi sejumlah badan usaha milik negara (BUMN). Selain menjadi tempat tinggal sementara, kawasan itu juga menampung berbagai aktivitas sosial, termasuk sekolah alam yang diinisiasi relawan dan komunitas pendidikan.

Andi F. Noya berjalan menyusuri huntara, berbincang dengan warga, dan menyapa anak-anak yang mengikuti kegiatan belajar. Ia menyebut kehadirannya sebagai bentuk dukungan terhadap proses pemulihan sosial pascabencana, yang menurutnya tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.

“Saya datang untuk melihat langsung sekolah alam yang tumbuh di sini. Di tengah kondisi yang terbatas, anak-anak tetap membutuhkan ruang belajar. Pendidikan adalah cara paling sederhana untuk menjaga harapan,” kata Andi F. Noya dalam sambutannya.

Menurut dia, sekolah alam di kawasan huntara mencerminkan daya tahan masyarakat dalam menghadapi krisis. Bencana, kata Andi, sering kali meruntuhkan lebih dari sekadar bangunan; ia juga menggerus rasa aman dan masa depan. Di titik itulah, kehadiran ruang belajar menjadi penting sebagai simbol keberlanjutan kehidupan.

Wakil Bupati Aceh Tamiang Ismail mengatakan, pemerintah daerah mengapresiasi dukungan PTPN IV Regional VI KSO Langsa yang menyediakan lahan hak guna usaha (HGU) untuk pembangunan huntara dan rencana hunian tetap bagi warga terdampak.

“Kami berterima kasih kepada PTPN IV Regional VI KSO yang telah memberikan lahan HGU untuk hunian sementara dan hunian tetap yang akan dibangun. Ini adalah bentuk kepedulian yang nyata,” ujar Ismail.

Ia mengakui bahwa proses pemulihan pascabencana masih menyisakan banyak pekerjaan. Pemerintah daerah, kata dia, terus berupaya mempercepat pembangunan hunian tetap agar warga tidak terlalu lama tinggal di huntara.

“Kami meminta masyarakat untuk tetap sabar, ikhlas, dan tawakal menghadapi cobaan ini. Pemerintah berkomitmen mempercepat pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak,” kata Ismail.

Direktur PTPN IV PalmCo Jatmiko Krisna Santoso menyatakan bahwa keterlibatan perusahaan dalam pembangunan huntara merupakan bagian dari tanggung jawab sosial BUMN. Ia menegaskan bahwa PTPN IV akan terus terlibat dalam upaya pemulihan masyarakat terdampak.

“Kami akan terus bergerak membantu masyarakat yang terdampak bencana. Upaya ini tidak berhenti pada penyediaan lahan, tetapi juga pada dukungan jangka panjang,” ujar Jatmiko.

Menurut dia, penanganan pascabencana membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, BUMN, relawan, hingga masyarakat. Tanpa kerja sama, proses pemulihan berisiko berjalan lambat dan tidak merata.

Direktur PTPN IV PalmCo menambahkan bahwa pihaknya siap mendukung pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak. Ia menyebut bahwa penyediaan lahan HGU merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan sosial di wilayah operasionalnya.

Di kawasan huntara, kehidupan berjalan dengan ritme baru. Anak-anak belajar di ruang terbuka yang sederhana, sementara orang tua berusaha menata kembali rutinitas sehari-hari. Meski tinggal di bangunan sementara, warga berupaya menjaga normalitas hidup.

Namun, huntara juga menyimpan cerita tentang keterbatasan. Ruang yang sempit, fasilitas yang terbatas, dan ketidakpastian tentang kapan hunian tetap akan terwujud menjadi realitas yang harus dihadapi warga setiap hari. Di titik ini, kunjungan tokoh publik dan pejabat menjadi simbol perhatian, meski tidak selalu menjawab seluruh persoalan.

Kunjungan Andi F. Noya di Aceh Tamiang memperlihatkan satu hal: pemulihan pascabencana bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan proses panjang yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberpihakan pada warga terdampak. Huntara menjadi ruang transisi antara kehilangan dan harapan, antara trauma dan upaya bangkit.

Bagi warga Aceh Tamiang, huntara bukan sekadar tempat tinggal sementara. Ia adalah ruang untuk bertahan, belajar, dan menunggu masa depan yang lebih pasti. Di tengah keterbatasan itu, sekolah alam, relawan, dan kolaborasi berbagai pihak menjadi penanda bahwa harapan masih mungkin tumbuh, meski pelan. (Chai)