Jakarta|INN.com
Tokoh muda nasional Arief Martha Rahadyan menegaskan bahwa persoalan lapangan kerja bagi generasi muda tidak bisa lagi diselesaikan dengan retorika dan janji berulang. Menurutnya, anak muda Indonesia membutuhkan pekerjaan nyata, bukan sekadar optimisme verbal dan data statistik yang tidak selalu mencerminkan kondisi di lapangan.
Negara harus berhenti memproduksi janji. Anak muda hari ini tidak menunggu pidato, mereka menunggu kesempatan kerja yang benar-benar ada,” tegas Arief
Arief menilai, bonus demografi yang selama ini digadang-gadang justru berpotensi berubah menjadi beban sosial jika negara gagal menghadirkan ekosistem kerja yang inklusif, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Ia menyoroti masih lebarnya jurang antara dunia pendidikan, pelatihan, dan kebutuhan industri.
Banyak anak muda kita terdidik, bersemangat, dan mau bekerja keras. Tapi sistem belum sepenuhnya berpihak pada mereka. Ini bukan soal kurangnya talenta, melainkan minimnya keberpihakan kebijakan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Arief mendorong agar negara berani melakukan terobosan nyata, mulai dari mempercepat industrialisasi dan hilirisasi, memperluas lapangan kerja berbasis teknologi dan ekonomi kreatif, hingga memastikan investasi benar-benar menciptakan pekerjaan, bukan hanya angka di atas kertas.
Ia juga menekankan pentingnya peran negara dalam melindungi anak muda dari pekerjaan informal yang tidak memberikan kepastian masa depan. Anak muda tidak butuh belas kasihan. Mereka butuh keadilan dan kesempatan yang setara untuk tumbuh,” tambahnya.
Arief mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan isu lapangan kerja anak muda sebagai agenda utama bangsa, bukan sekadar wacana musiman.
Jika kita serius ingin Indonesia maju, maka kita harus serius memastikan anak mudanya bekerja, berkarya, dan merasa dihargai di negerinya sendiri,” pungkas Arief Martha Rahadyan.
