Subulussalam |infonewsnusantara.com. Minggu – 14- 12-2025, bawah guyuran hujan deras, seorang ibu rumah tangga di Kota Subulussalam berkeliling sejak pagi hari mencari gas elpiji 3 kilogram. Dengan tabung gas kosong di tangan, ia mendatangi warung dan pangkalan demi bisa memasak untuk keluarganya.

Namun upaya itu berakhir sia-sia. Setelah berjam-jam mencari, ibu tersebut justru mendengar harga gas elpiji 3 kilogram mencapai Rp50 ribu per tabung, harga yang jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Wajahnya tampak lesu, tubuhnya pun kelelahan.

Dengan uang yang tidak mencukupi, ibu itu akhirnya pulang ke rumah di tengah hujan deras sambil membawa tabung gas kosong. Tak ada gas, tak ada pilihan. Demi anak-anaknya bisa makan, ia terpaksa mencari kayu bakar di sekitar rumah dan memasak di luar rumah menggunakan tungku tradisional.
“Kami tidak punya pilihan. Anak-anak sudah lapar,” tuturnya dengan suara lirih.
Kisah pilu ini menjadi potret nyata kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di Subulussalam. Warga mengaku sering melihat banyak tabung gas masuk ke wilayah mereka, namun masyarakat kecil justru sangat kesulitan mendapatkannya, bahkan di pangkalan resmi.
Masyarakat mendesak pemerintah agar tidak tinggal diam dan segera bertindak mengatasi kelangkaan gas elpiji bersubsidi ini. Warga juga meminta aparat penegak hukum menindak tegas oknum penimbun, pangkalan nakal, serta pihak yang menjual gas di atas HET.
Bagi rakyat kecil, gas elpiji 3 kilogram bukan sekadar tabung gas, melainkan soal bertahan hidup dan masa depan anak-anak mereka.
Redaksi: Syahbudin Padank,
