Berita  

*Aceh Menuju Gerbang Laut Internasional, Kolaborasi Diperlukan untuk Wujudkan Trayek Krueng Geukueh–Penang*

Kapal Aceh Hebat 1 yang dibangun menggunakan APBA, merupakan simbol konektivitas daerah dan jawaban atas isolasi pulau-pulau kecil. Kini, muncul pertanyaan: apakah perannya hanya sebatas domestik, ataukah Aceh berani melangkah lebih jauh?

Potensi Rute Internasional Semakin Terbuka

Peluang itu ada. Pemerintah Aceh telah mengajukan rute internasional Krueng Geukueh—Penang menggunakan KMP Aceh Hebat 1. Meski awalnya dirancang untuk kebutuhan antarpulau, standar teknis dan kebijakan memungkinkan kapal tersebut beroperasi lintas batas negara.

“Secara teori dan rencana, Kapal Aceh Hebat bisa digunakan untuk trayek luar negeri, asalkan memenuhi persyaratan perizinan serta dukungan kebijakan,” ujar Pemerhati Kebijakan Publik Aceh, Drs. M. Isa Alima. Ia menegaskan bahwa ini bukan sekadar mimpi, melainkan peluang ekonomi yang harus diperjuangkan bersama.

Belajar dari Simeulue: Jangan Ada Daerah yang Tertinggal

Isa Alima mengingatkan bahwa pengembangan pelayaran internasional juga harus menjadi momentum pemerataan pembangunan. “Ini coba dikembangkan. Jika memang ada yang lain silakan tambahkan. Agar tidak ada daerah seperti Simeulue yang kewalahan. Dan bisa juga mengajak investor lokal untuk menanamkan modal untuk kapal menuju luar negeri,” tegasnya.

Butuh Kemitraan: Pemerintah dan Pengusaha Aceh Harus Duduk Satu Meja

Sejumlah figur pengusaha Aceh disebut berpotensi menjadi motor kolaborasi, seperti H. Ismail Rasyid, SE (CEO PT Trans Continent), H. Arbi (CEO PT Bintang Family), H. Maksur Mukoda (Muko Dayah), dan banyak putra Aceh lainnya yang telah sukses di luar daerah maupun luar negeri.

“Sudah saatnya Pemerintah Aceh mengajak mereka duduk bersama, menyusun cetak biru transportasi maritim masa depan,
” ujar Isa Alima”

Menuju Tol Laut Aceh

Gagasan besar ini bukan sekadar membuka jalur pelayaran, tetapi langkah simbolik bahwa Aceh siap bangkit sebagai pintu ekonomi, perdagangan, pariwisata, dan logistik kawasan Selat Malaka.

Harapan yang Tak Boleh Padam

Langkah ini mungkin panjang, namun dengan visi, keberanian, strategi, dan sinergi, masa depan Aceh akan bergerak kepada mereka yang mau memulaimemulai”tutup Isa”