Bedakan Gula dan Garam

Oleh : Chaidir Toweren

INN.com — Dalam kehidupan sehari-hari, tutur kata adalah cerminan kepribadian seseorang. Apa yang keluar dari mulut sering kali lebih tajam dari sebilah pedang. Banyak orang pandai berbicara lembut, namun tak semua kata manis itu sejalan dengan hati yang jujur.

Seperti gula dan garam, sekilas tampak serupa, namun rasanya berbeda jauh. Begitu pula dengan ucapan manusia. Ada yang tampak menenangkan di permukaan, tetapi menyimpan maksud tersembunyi di baliknya. Inilah mengapa kita harus berhati-hati, bukan hanya dalam menilai orang lain, tetapi juga dalam menjaga lisan sendiri.

Tutur kata yang baik tidak diukur dari keindahan bahasa, melainkan dari ketulusan niat di dalamnya. Banyak pertikaian, salah paham, bahkan permusuhan lahir dari lidah yang tak terjaga. Lidah memang kecil, tetapi bisa menimbulkan luka yang dalam.

Dalam dunia sosial maupun pemerintahan, tutur kata lembut sering dijadikan alat untuk menarik simpati atau menutupi niat yang sebenarnya. Namun, seindah apa pun kata-kata yang diucapkan, kebenaran selalu punya cara untuk muncul ke permukaan.

Hidup akan lebih damai bila setiap ucapan disertai kejujuran, bukan kepura-puraan. Kata-kata yang keluar dari hati yang bersih akan membawa ketenangan, sedangkan kata yang lahir dari niat buruk akan menjadi racun bagi diri sendiri dan orang lain.

Mari kita belajar membedakan antara “gula” dan “garam” dalam kehidupan sosial kita. Karena tidak semua yang terdengar manis itu baik, dan tidak semua yang terasa asin itu buruk. Kadang, kejujuran memang terasa pahit, tetapi justru itulah yang menyehatkan hati.

Jaga lidah, jaga hati, dan jagalah kepercayaan orang lain. Sebab sekali kita salah bicara, mungkin seumur hidup kita harus menanggung akibatnya.

Tulisan ini penulis tuliskan untuk menjaga kedepan agar lebih baik, lebih benar dan lebih arif.