INN.com — Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Aceh di Kabupaten Pidie Jaya telah usai, meninggalkan catatan penting bagi seluruh daerah peserta. Dari hasil akhir, Kota Langsa tak mampu menembus 10 besar, sementara Aceh Besar kokoh di peringkat pertama dengan nilai 379 poin, disusul Banda Aceh (344), Pidie Jaya (262), dan Pidie (252). Bahkan kabupaten lain seperti Aceh Utara, Aceh Timur, dan Simeulue tampil lebih unggul.
Capaian ini tentu menjadi bahan refleksi serius bagi pemerintah dan masyarakat Kota Langsa. Sebab, kegagalan menembus 10 besar bukan sekadar soal lomba keagamaan, melainkan indikator sejauh mana pembinaan dan penguatan nilai-nilai Islam di masyarakat telah berjalan.
Padahal, Langsa memiliki visi besar melalui program “Langsa Kota Santri”, sebuah gagasan luhur yang seharusnya menempatkan kota ini sebagai pusat kajian Islam dan pendidikan Al-Qur’an di Pantai Timur Aceh.
Visi tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi diiringi langkah konkret. Salah satunya melalui program mencetak 1.000 hafizh dan hafizah Al-Qur’an, yang digagas oleh Wali Kota Langsa, Jeffry Sentana S. Putra, SE. Program ini menyasar siswa SD dan SMP agar sejak dini terbiasa dengan nilai-nilai Qur’ani.
Selain itu, inisiatif pembangunan dayah di setiap desa serta dukungan beasiswa santri yang diusulkan oleh Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) menjadi langkah penting dalam memperkuat akar pendidikan Islam di Langsa.
Namun, hasil MTQ kali ini menunjukkan bahwa implementasi di lapangan belum berjalan optimal. Masih ada jarak antara visi dan realitas. Sebuah visi besar seperti “Langsa Kota Santri” membutuhkan komitmen lintas sektor, mulai dari pemerintah, ulama, lembaga pendidikan, hingga keluarga.
Langsa seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan pencanangan program. Diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap pola pembinaan qari-qariah, sistem pelatihan, serta dukungan anggaran dan fasilitas bagi lembaga pendidikan keagamaan.
Kegagalan ini hendaknya menjadi pemicu kebangkitan, bukan kekecewaan. Karena sesungguhnya, gelar “Kota Santri” bukan hanya ditentukan oleh jumlah hafiz atau kemenangan MTQ, melainkan oleh budaya Qur’ani yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.
Sudah saatnya Langsa memperkuat sinergi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat, menjadikan setiap gampong sebagai pusat pembinaan iman dan ilmu, serta melahirkan generasi Qur’ani yang menjadi kebanggaan Aceh.
Kekalahan di MTQ bukan akhir, melainkan awal dari kesungguhan baru untuk mewujudkan Langsa sebagai Kota Santri yang sesungguhnya, bukan sekadar slogan, tetapi identitas yang hidup.
